Being a Writer — Fanny Lesmana

Dear students…

Ini adalah tulisan yang rencananya akan saya muat di Tabloid Keluarga. Mungkin ini bisa berguna buat kalian.

———————————————————————————–

Apa sih asyiknya jadi penulis? Ya asyik banget….

Jadi penulis tuh kita bisa mengeksplorasi semua yang ada di dalam benak dan hati kita. Jadi penulis itu berarti kita membagikan banyak hal kepada orang lain. Menjadi penulis juga berarti mengajarkan sesuatu kepada orang lain. Singkatnya, dengan jadi penulis, kita bisa memberkati orang lain, lah. Tapi itu gak berarti penulis itu adalah orang yang hebat, pinter atau tahu segala-galanya.

 

Dengan menjadi penulis, kita juga berarti kudu belajar banyak. Belajar dari pengalaman diri sendiri atau pengalaman orang lain; belajar dari situasi di sekeliling kita; belajar dari buku atau majalah maupun media yang lain; juga belajar memahami segala sesuatu – termasuk hal yang indah maupun yang gak indah. Pendeknya, jadi penulis juga bisa mendapat berkat.

Bagi saya sendiri, dengan menjadi penulis, saya memiliki ‘kekayaan’ yang lain daripada yang lain. Saya belajar banyak dan memperoleh banyak. Apa yang banyak itu kemudian saya tuangkan dalam bentuk tulisan untuk kemudian saya bagikan banyak-banyak kepada orang banyak. Menyenangkan, bukan?

Pertanyaannya, apa syarat jadi penulis?

Gak ada. Gak kudu cantik, gak kudu keren, gak kudu pinter, gak kudu kaya juga gak kudu pinter nulis. Yang terpenting adalah mau nulis. Kalo gak mau nulis, ya mana bisa jadi penulis. Aneh lah, ya….

Lalu, bagaimana jadi penulis?

Ya mulailah menulis…. Menulis… dan menulis….

Apa yang ditulis?

Mulailah menulis apa yang ada dalam hati. Ungkapkan segala sesuatu yang ada dalam benak dan hati kita. Bagikanlah apa yang memang ingin kita bagikan. Jika kita menulis sesuatu dengan apa yang ada dalam hati kita, maka tulisan kita pasti jujur dan apa adanya. Tulisan yang jujur akan sangat menolong pembaca untuk memahami apa sih yang sebenarnya dipikirkan oleh penulis.

Bahannya dapat dari mana?

Bahan tulisan atau biasa disebut ide bisa didapat dari mana saja. Dari pengalaman pribadi atau orang lain. Bisa juga dari membaca buku atau mendengar (termasuk dengerin gosip hahaha…). Tapi, ide juga bisa datang dengan sendirinya. Pas kita lagi duduk tenang sendirian (gak pake acara bengong dan bingung) tiba-tiba aja ada ide yang masuk ke dalam pikiran kita. Blup….

Mulainya dari mana?

Kata pertama atau kalimat pertama emang selalu menjadi hal tersulit bagi seorang penulis ketika berhadapan dengan pena dan kertas atau di depan layar komputer. Tapi sekali lagi, itu bukan halangan bagi kita untuk bisa menulis atau menjadi penulis. Tuliskan saja kata pertama yang di ujung lidah kita. Misalnya kita akan menulis tentang pergaulan bebas di kalangan remaja, ya apa yang ada dalam pikiran kita saat itu tentang pergaulan bebas di kalangan remaja. Adakah teman yang pernah melakukan seks pra nikah dan kemudian hamil? Apa yang terjadi padanya? Akibatnya negatif atau positif?

Atau kita ingin menulis tentang ketaatan anak muda pada ortunya. Kira-kira ini kalimat pertamanya: ”Taat? Makanan apa tuh? Emang masih ada anak muda yang taat ama ortunya? Bukannya itu hanya ada di zaman Siti Nurbaya? Sekarang zaman modern. Semua orang bebas menyatakan pendapatnya, melakukan kehendaknya. Jadi kenapa mesti pusing dengan apa yang diinginkan oleh ortu? Gak janji deh…

Setelah itu bagaimana?

Menulislah terus. Gak perlu berhenti untuk melihat apa yang kita tulis. Terus saja menulis sampai seluruh isi hati dan isi benak kita tertuang habis. Ketika kita berhenti, kita akan melihat ada kalimat-kalimat atau pilihan kata yang kita anggap kurang asyik. Maka kita mulai sibuk untuk betulin kata atau kalimat itu. Akhirnya, tulisan kita gak pernah jadi. Yang begini ini, sangat sering terjadi, friends.

Menulislah seperti kita sedang bicara dengan seseorang. Nulislah kayak kita lagi cerita getu, lho…

Bagaimana mengakhirinya?

Ada dua cara untuk mengakhiri sebuah tulisan. Pertama, dengan memberikan pernyataan atas hal-hal yang kita tulis. Seperti apakah hal yang kita inginkan untuk dilakukan oleh pembaca setelah membaca tulisan kita? Atau, yang kedua, dengan memberikan pertanyaan. Jadi, kita sebagai penulis gak mendikte pembaca atas hal apa yang harus dilakukannya, tetapi kita hanya buat dia berpikir, seperti apakah hal yang kudu dilakukannya setelah baca tulisan kita.

Kalo tulisan dah jadi, terus diapain?

Diliatin aja… hahahaha… ya gak lah… diperiksa aja sekali atau dua kali lagi sebelum kita kirim ke media yang udah kita incar. Jangan pernah takut mengirimkan naskah yang kita tulis ke media. Perkara ditolak atau diterima, itu bukan persoalan gede. Tulis dulu…

BTW, belakangan ini, saya ngajak murid-murid saya yang SMU, juga yang SD untuk mulai nulis. Mereka pun nanya hal yang sama… mulainya dari mana? Tapi, ternyata setelah mereka nulis…. ngalir getu lho…. Dan, jadi buku tuh… hehehe…. Jadi, gak ada yang gak mungkin kalau kita mau. Tuhan udah menciptakan kita dengan talenta yang istimewa tetapi juga dengan hikmat dan pengetahuan untuk mempelajari sebuah ketrampilan. Tuhan ingin kita memberikan kembali kepada-Nya apa yang udah Dia berikan kepada kita.

Gak ada yang rumit dengan nulis. Gak ada yang sulit untuk mulai nulis. So, just keep writing, youthers…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: