Berbulan-bulan berujung pada 5 Tahun Terakhir

Hari itu hari Sabtu tepatnya tanggal 25 October 2005, semua orang mengenakan pakaian berwarna gelap meratap di depan batu nisan. Terukir sebuah nama, Hardy Soetanto sebuah lelaki muda yang taka sing bagiku. Dia adalah saudara sahabatku, yang telah meninggal tiga hari sebelum di makamkan. Aku tak kuasa mendekat ke nisan tersebut, aku dapat melihat dari balik pohon ibunya menangis tersedu-sedu di depan nisan tersebut dan seakan tidak rela dengan kepergian anaknya tersebut.

Lima hari sudah sejak pemakaman berlangsung, namun rumah berpagar coklat di kawasan kelapa gading itu tak menandakan adanya keceriaan. Semua yang di dalam bersedih, seakan masih tak rela dengan kepergian saudara, anak tercinta. Kecerobohan Hardy yang berujung maut ini membuat muram keluarga dan kerabatnya. Semua ini bermula saat Hardy masuk kuliah untuk pertama kalinya, selama masa orientasi yang sering kali di sebut ospek ia mulai mendapat teman-teman baru. Setiap akhir pekan bahkan setiap pulang kampus ia pergi bersama teman-teman nya untuk sekadar minum kopi dan berjalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta. Setelah beberapa bulan berteman dengan teman-teman barunya, ia pun merasa nyaman dengan 3 dari teman-teman barunya itu. Mereka pun sering pergi bersama, hingga suatu malam salah seorang teman nya ini mengajak Hardy untuk keluar malam. Karena tiadk ingin mengecewakan teman-temannya, ia pun setuju. Mereka pergi ke satu klab malam yang terkenal di Jakarta, berhubung Hardy tergoolong seorang anak yang alim pada awalnya ia merasa tidak nyaman. Ia merasa klab bukan tempat yang cocok bagi dia, tapi ke tiga temannya itu meyakin kan dia bahwa klab adalah tempat yang asik bahkan teman nya menyodori sebuah minuman dan sebuah pil. Pertama ia menolak, namun ke tiga temannya itu meyakinkan dia untuk mencobanya. Karena merasa tidak enak dengan kawan-kawannya ia pun meneguknya, malam itu dia pun mulai enjoy dia mulai turun ke lantai dansa dan ikut berjoget dengan teman-teman nya itu. Singkat cerita Hardy lama kelamaan merasa nyaman dan terbiasa dengan dunia malam. Hampir setiap malam ia menghabiskan waktu di klab-klab malam di Jakarta.

Hingga pada suatu malam ketiga temannya tidak mengajaknya ke klab lagi, namun ke sebuah rumah yang lumayan besar yang terletak di kawasan elit di daerah Jakrta Barat. Rumah itu memiliki pagar yang tinggi bagaikan benteng, salah seorang temannya memencet bel rumah itu. Tak lama kemudian seorang perempuan keluar dan membukakan pintu. Perempuan itu putih, tingi, berambut panjang, badannya yang proporsional membuat nya terlihat sempurna secara fisik. Perempuan itu menggiring mereka semua ke sebuah ruangan di lantai dua rumah itu dan berkata, “Kalian sudah di tunggu sedari tadi, barang-barang nya sudah siap. Selamat menikmati,” perempuan itu pun turun ke lantai satu dan meninggalkan kami di sana. Salah seorang teman ku Aldo membuka pintu, dalam ruangan itu aku melihat ada tiga orang perempuan yang kuduga pecun dan ada alat-alat suntik, alat-alat hisap, miras, dan lainnya. Ketiga wanita itu pun menghampiri kami dan menawari berbagai miras pada mereka, mereka semua pun meneguk nya sampai mabuk termasuk Hardy. Alhasil mereka mulai menyuntikkan obat-obat terlarang dan beberapa menghisap ganja, bahkan mereka melakukan hal yang dianggap zinah oleh orang-orang beragama. Malam itu mereka lalui dengan bergantian jarum suntik dan bertukar-tukar pasangan.

Selama berbulan-bulan ia melalui hari-hari nya dengan rutinitas yang sama, hingga pada suatu kali Ani-ibu Hardy-menyadari ada suatu hal yang berbeda dari anaknya. Ia menyadari anaknya pucat dan menjadi kurus. Tanpa menanyakan apa yang terjadi ibu nya mengajak Hardy untuk ke lab dengan alibi ibunya ingin test darah dan laiinya. Sesampainya di lab ibunya mengajak Hardy untuk ikut test darah. Singkat cerita dari test lab Hardy, ibunya tak kuasa menahan tangis karena mendapati anaknya HIV/AIDS positif. Ia mengetuk pintu kamar Hardy dan menjelaskan hal ini secara perlahan, saat itu Hardy tak bias berkata apapun. Ia hanya duduk terdiam di kamarnya dengan tetesan air mata penyesalan. Namun ia menyadari semmua itu sudah terlambat. Tak lama kemudian ibunya membawa Hardy untuk bekonsultasi dengan dokter, dan sudah mereka duga dokter akan berkata penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Dokter pun menganjurkan Hardy untuk meminum obat yang berfungsi untuk menambah kekebalan tubuhnya, ia pun menuruti anjuran dokter dan menghabiskan sisa waktu nya yang singkat sebelum ia meninggal. Sisa hidupnya yang singkat itu ia habiskan dengan bertobat dan mengisi hari-harinya dengan berdoa. Namun setelah 5 tahun waktunya di dunia telah habis, dan ia pun di panggil Tuhan untuk berkumpul di awan-awan bersamaNya. Tetapi sebelum meninggal ia menulis surat yang ia tinggal kan di meja kecil samping ranjangnya,

Hari ini aku sadar atas semua yang telah aku lakukan dulu.
Aku pun tahu aku telah memilih teman yang salah, aku bergaul dengan orang-orang yang menyesatkan aku dan membuat hidupku akan berakhir pada maut.
Aku hanya ingin meminta maaf pada mama, papa, bahkan keluarga yang telah kupermalukan.
Aku hanya ingin katakan maaf.

By: Angela Fortunata Dj/X.IGCSE

1 Response so far »

  1. 1

    Fanny said,

    Ketiga wanita itu pun menghampiri kami dan menawari berbagai miras pada mereka === Angela… jadi, penulis juga ikut make obat ya… Kalo misalnya gak, ya kamu belum konsisten… :):):) Yang lain, udah OK banget…. ANGELA getu lho…


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: