Sahabat yang tak terlupakan

Sebenarnya semua berawal dari sebuah kesalahpahaman kecil. Sebuah untaian kata yang seharusnya tidak terucapkan telah merusak segalanya. Aku dan teman karibku yang sudah berteman akrab sejak masih duduk di bangku sekolah dasar sudah tak jelas nasibnya. Ya, semua ini adalah masalah antara aku dan dia, seorang teman yang kupercaya seperti layaknya saudara sendiri.

Saat ini kalendar menunjukkan tahun 2007, dan aku masih berumur enam belas tahun. Waktu yang sudah kulalui bukanlah waktu yang sangat lama, namun aku bersyukur sudah diberi kesempatan untuk merasakan hidup bersama orang-orang yang berharga bagiku. Aku senang dapat memiliki keluarga dan teman-teman yang baik, dan aku tak akan pernah melepaskan mereka dari ingatanku. Terutama Feli, teman yang sudah menemaniku di saat senang dan duka sejak kami masih duduk di sekolah dasar kelas empat.

Feli Puspita, seorang gadis yang merupakan anak tunggal itu, adalah teman terbaik yang pernah aku miliki. Ayahnya adalah mitra bisnis ayahku. Kami sering berlibur dan menghabiskan waktu bersama. Kami juga memiliki banyak kesamaan, contohnya kami berdua suka menghabiskan liburan di gunung dan tempat-tempat yang memiliki pemandangan indah. Hobi kami pun sama, menggambar. Kami sering menggambar tokoh-tokoh animasi yang lucu. Namun diantara banyak kesamaan yang kami miliki, kami juga mempunyai perbedaan. Feli tidak suka olahraga tetapi aku suka olahraga, terutama basket. Di tahun 2005 aku sempat menjadi salah satu anggota tim basket di sekolahku sebagai cadangan. Walaupun hanya sebagai cadangan, aku tetap senang karena dapat menjadi anggota tim basket di sekolah menengah pertama itu. Namun aku tak dapat bertahan lama di tim basket tersebut. Aku mengalami cedera. Sendi kakiku sudah tak layak untuk di paksa bermain basket. Di saat aku kecewa, Feli berusaha sebisa mungkin untuk menghiburku. Aku sangat menghargai usahanya itu.

Masa-masa sekolah telah aku lalui bersama sahabatku ini. Sekarang kami menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri Tujuh di Medan. Nama Feli tercantum di daftar kelas XI-IPS sedangkan namaku tercantum di daftar kelas XI-IPA. Kami tetap akrab meskipun kelas kami berbeda. Semua tetap berjalan seperti dulu, hanya saja waktuku dengan Feli sudah tak sebanyak dulu karena Feli juga harus membagi waktunya dengan Rangga, siswa kelas XI-IPS yang memiliki tempat khusus di hati Feli.

Rangga, yang hobinya bermain badminton itu sudah mengenalku sebelum ia mengenal Feli. Aku dan Rangga berteman cukup dekat sehingga aku menganggapnya sebagai kakakku sendiri, mengenang kakakku satu-satunya yang sudah tiada. Memang aku belum pernah bertemu dengan kakak kandungku itu, namun aku tahu bahwa ia sempat hadir di keluargaku sebagai anak pertama. Roy namanya. Aku mendengar bahwa aku sebenarnya memiliki kakak laki-laki dari teman masa kecilku, Stefani. Ketika mendengar kabar itu aku sempat kaget, namun setelah aku tahu kebenarannya dari ayah dan ibuku, aku berjuang keras untuk melupakannya. Bagiku sangat berat untuk melupakan kenyataan bahwa kakakku telah tiada. Aku juga tak sanggup untuk menceritakan hal ini ke siapapun termasuk Feli. Sebenarnya aku juga tak ingin Rangga tau tentang hal ini, tapi aku tak sanggup menahan tangisku ketika melihatnya kehilangan sosok adik perempuan satu-satunya pada saat ia masih duduk di bangku SMP. Aku pun menceritakan keberadaan kakak kandungku. Aku percaya Rangga bisa menjaga rahasia ini.

Tak terasa, tahun 2007 ini akan berakhir dalam tujuh hari lagi. Ya, hari itu tanggal 24 Desember 2007, adalah hari di mana semua orang datang berkunjung ke rumah keluarganya untuk merayakan natal bersama. Semua orang terlihat senang, namun ada satu keanehan di natal tahun ini. Feli terlihat begitu berbeda. Dirinya yang biasa periang tiba-tiba berubah menjadi sosok yang rasanya belum pernah kukenal. Hari-hari ini Feli cenderung diam. Ketika aku mengajaknya bersepeda, ia menolak dengan nada yang tak enak didengar. Padahal Feli yang kukenal selalu senang jika aku mengajaknya bersepeda di sore hari. Ketika kutanya ada apa dengannya hari ini, ia selalu mengatakan bahwa ia tidak apa-apa.

Jam di hari itu sudah menunjukkan pukul delapan malam, kami harus segera pulang ke rumah masing-masing. Aku sampai di rumahku pada pukul setengah sembilan malam. Saat itu aku masih terheran dengan perilaku Feli hari ini. Tanpa berpikir panjang, aku meraih telepon genggamku dan segera menghubungi Rangga. Aku menanyakan apa yang terjadi pada Feli hari ini. Namun Rangga tak sempat berkata-kata. Aku hanya dapat mendengar beberapa isakan tangis. Suasana hening sejenak. Aku tidak berani berkata-kata. Satu-satunya hal yang dapat aku lakukan hanyalah diam menunggu Rangga mengeluarkan sepatah kata sebagai jawaban dari pertanyaanku.

Setelah beberapa menit kemudian Rangga memanggil namaku. Aku pun menanyakan mengapa Rangga menangis. Rangga akhirnya menceritakan semuanya kepadaku. Feli hari ini bersikap aneh karena Rangga tidak sengaja mengatakan bahwa aku sebenarnya memiliki seorang kakak. Feli kaget mendengarnya. Feli kesal karena aku tidak menceritakan bahwa aku sebenarnya memiliki seorang kakak. Mendengar cerita Rangga itu, aku bergegas untuk menghubungi Feli dan meminta maaf.

Setelah telepon dengan Rangga ditutup, aku segera menghubungi Feli. Namun Feli tidak menjawab. Mungkin Feli sudah tidur, itulah keempat kata yang muncul di benakku. Aku tdak mau kehilangan teman seperti Feli. Akhirnya kuputuskan untuk tidur dan beristirahat terlebih dahulu agar aku bisa melakukan banyak aktivitas di hari natal tahun ini.

Keesokan harinya, aku segera pergi ke taman perumahanku setelah aku bangun pagi. Tak kuduga bahwa aku akan bertemu Feli di sana. Aku menyapanya dan mengajaknya bersepeda sejenak, selagi matahari belum menyinari bumi dengan panasnya yang terik itu. Aku merasa sangat senang karena dapat bersepeda bersama Feli. Setelah mengelilingi perumahanku, aku mulai berbicara pada Feli mengenai kakakku. Pada awalnya Feli terlihat marah, namun ia akhirnya tersenyum ketika aku mengakui bahwa aku belum bisa menerima kenyataan. Feli minta maaf atas kesalahpahamannya beberapa hari yang lalu. Feli mengira bahwa bagiku Rangga lebih penting darinya. Aku minta maaf juga karena tidak menceritakan kakakku, Roy, kepada Feli. Feli hanya mengatakan, “Semua yang terjadi pasti memiliki tujuan. Mungkin rencana yang terjadi itu bukan apa yang kita rencanakan, tetapi Tuhan pasti mempunyai rencana yang terbaik buat kita. Itulah sebabnya kita harus hidup sesuai rencana-Nya, bukan sesuai rencana kita.” Kata-kata Feli ini memang benar, aku juga menyesal telah menganggap bahwa diriku adalah orang paling tidak beruntung di dunia. Ternyata aku salah. Apa yang dikatakan Feli benar. Hari itu aku belajar bahwa rencanaku belum tentu rencana yang terbaik buatku, tetapi rencana Tuhan adalah rencana yang terbaik buatku.

Sore harinya, aku, Feli, dan Rangga berkumpul di halaman belakang rumahku. Hari ini, tepat pada tanggal 25 Desember 2007, keluargaku mengadakan pesta natal di taman belakang rumahku. Kita bermain dan menghabiskan waktu bersama dengan riang. Natal itu adalah natal yang tak akan kulupakan seumur hidupku. Aku telah belajar satu hal baru dari sahabatku yang satu ini. Terima kasih Feli.

Oleh: Ayleen Sidarta / 10.1

1 Response so far »

  1. 1

    Fanny said,

    Asyik Ayleen…. konfliknya kurang rame… bisa ditolong dengan penggunaan kalimat langsung…


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: