Kata ‘Teman’

Apakah kau percaya dengan kata ‘teman’?

Teman adalah kata yang paling kubenci. Memang awalnya mereka baik dan mereka berjanji akan menjadi teman selamanya tapi mereka akan lupa dengan janji yang mereka buat.

Aku Mey, kelas 2 SMP. Sudah hampir satu tahun kami sekeluarga; ayah, ibu, aku dan adik laki-lakiku pindah ke kota ini. Kami pindah karena ayah mendapat pekerjaan yang lebih baik di kota ini daripada di kota sebelumnya. Pertama kali aku pindah, aku tidak terbiasa dengan kehidupan di kota ini. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku mulai akrab dengan teman-teman di sekolah baruku ini. Bahkan aku menemukan beberapa teman baik.

Suatu sore saat aku baru saja pulang sekolah, tiba-tiba ayah memanggil aku dan adikku ke ruang makan. Di sana juga ada ibu yang sedang duduk di dekat ayah.

“Ayah tahu kalian sudah terbiasa tinggal di kota ini…”, ayah mulai berbicara, “Tetapi mulai bulan depan kita sekeluarga akan pindah lagi ke kota lain karena tempat ayah bekerja saat ini menugaskan ayah di kota tersebut.”

Aku sangat terkejut. Benarkah ini? Padahal baru saja aku akrab dengan teman-teman baruku di kota ini tapi kenapa harus pindah lagi? Aku pun terdiam tak bisa berkata-kata. Keputusan ayah sudah bulat dan mau atau tidak kita semua akan pindah ke kota tersebut.

Saat hari kepindahanku, teman-teman mengucapkan salam perpisahan dan mereka berjanji bahwa mereka tak akan lupa dan terus berhubungan denganku. Aku pun percaya pada mereka.

Beberapa minggu setelah aku pindah, aku masih berhubungan dengan teman-teman lamaku dan aku masih belum akrab dengan lingkungan di sekolahku yang baru ini. Tetapi, setelah beberapa bulan, teman-teman lamaku tidak pernah meneleponku atau mengirim surat padaku. Aku sangat bingung dan akhirnya kusadari bahwah mereka telah melupakan aku.

Aku sangat sedih dan dari kejadian itu aku sudah tak bisa mempercayai kata ‘teman’ lagi. Mereka semua berbohong. Aku jadi merasa kesepian. Ayah dan ibu bekerja dari pagi hingga malam. Adikku pun memiliki kesibukannya sendiri. Aku juga tidak akrab dengan teman-teman baruku. Meski mereka berusaha untuk mendekatiku tapi aku menjauh. Aku juga sering membolos di mata pelajaran tertentu karena tidak suka.

Karena semua itu teman-teman menganggap aku sombong dan hal negatif lainnya. Rumor-rumor tentangku pun beredar di lingkungan sekolah. Para guru juga menganggap aku seorang anak yang nakal.

Suatu siang, aku membolos dari pelajaran olahraga. Para guru sedang berusaha mencariku ke seluruh sekolah. Akhirnya aku bersembunyi di perpustakaan, di antara rak-rak buku yang jarang di datangi orang. Tiba-tiba aku mendengar langkah para guru menuju rak itu.

Aku pun berlari tanpa suara menuju ke rak buku lain dan tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Bruk!

“A,… Aduh…”, orang itu mendesah. Aku pun terjatuh. Saat kuangkat kepalaku ternyata orang yang kutabrak adalah seorang gadis manis yang kelihatan sangat pintar. Saat aku perhatikan lagi, ternyata dia adalah Ryn si ketua OSIS!!

Tiba-tiba guruku menemukanku. Aku yang bingung tanpa sadar menarik Ryn dan berlari meninggalkan perpusatakaan. Kami berlari dan terus berlari sampai guru yang mengejar kehilangan jejak kami. Ketika tersadar, aku sangat terkejut.

“Aaaaa!! Maaf! Maaf! Maaf! Maafkan aku…! Aku seenaknya saja menarikmu. Sudah menabrakmu, menarikmu ke sini seenaknya lagi… Aduuh,…”

“Tenang… Tak apa, kok… Tadi aku juga salah berdiri di tengah jalan. Tapi,… Kenapa kamu dikejar oleh banyak guru?”

“Euhm,… Itu karena aku membolos dari pelajaran olahraga… Aku sangat tidak suka olahraga. Huuh,… Guru-guru itu keras kepala…”

Dia tertawa kecil lalu berkata ,”Mereka bukannya keras kepala tapi mereka sayang sama kamu. Lihat…”, dia menunjuk kearah guru-guru yang mencariku tadi ,”Mereka sangat memperhatikan kamu sampai-sampai rela mencarimu ke mana-mana.”

“… Iya juga, ya…”, kataku sambil menundukan kepala.

“Euhm,… Kalau tidak salah kamu Mey teman sekelasku, kan?”

“I… Iya… kok bisa tahu?”

“Aku selalu memperhatikanmu. Kulihat kau selalu sendirian. Kenapa tidak berteman dengan yang lain?”

Aku terdiam sebentar lalu berkata ,”Sebenarnya…”

Aku mulai bercerita tentang bagaimana aku di sekolahku yang lama dan alasan mengapa aku tidak berteman dengan teman-teman yang lain. Tanpa sadar aku sudah bercerita panjang dan lama. Sudah lama aku tak bercerita sepanjang ini. Aku sangat merindukan hal-hal yang seperti ini. Ryn pun mendengarkan tanpa berkata apa pun. Akhirnya aku selesai bercerita.

“Umm,… Bagaimana kalau aku yang jadi teman pertamamu di sekolah ini?”

“Kau ini nggak ngerti, ya…? Aku kan sudah bilang aku sudah tidak bisa mempercayai teman.”

“Maka dari itu,… Aku ingin menjadi temanmu dan aku akan berusaha membuktikan bahwa pendapatmu tentang teman itu salah. Aku akan membuat kamu percaya kepada kata ‘teman’. Aku janji tak akan meninggalkanmu.”

Kulihat dia sangat bersemangat. Aku tak tahu harus berkata apa ,” Hya… Terserah kamu saja… Kalau gagal jangan nangis, ya…”

“Tak akan…”

Sejak saat itu, Ryn berusaha mendekatiku. Ke mana aku pergi, apa yang aku lakukan, semuanya diikuti kecuali membolos. Dia berusaha berbicara denganku, kadang ia mengingatkan aku kalau aku lupa. Tapi, karena dia, aku jadi tidak merasa kesepian lagi. Akhirnya aku pun menyerah dan dia berhasil membuat aku menjadi temannya. Tanpa tersadar rasa percayaku terhadap Ryn mulai tumbuh.

Malam itu ayah memanggil kami sekeluarga dan berkata bahwa tugas ayah sudah selesai sehingga kita akan kembali ke kota sebelumnya. Aku tidak terkejut tapi entah kenapa perasaanku sangat tidak nyaman. Ada sesuatu yang kurasa. Tapi apa? Aku tak tahu.

Keesokan paginya, saat aku berada di depan pintu kelasku, kudengar seseorang berkata ,”Eh, kalian tahu tidak, Ryn dipanggil kepala sekolah!”

“Eeh,…? Kau tahu dari mana?”, kata yang lain.

“Tadi kepala sekolah datang ke kelas dengan wajah serius. Aku rasa ini mengenai nilai pelajaran Ryn.”

“Umm,… Akhir-akhir ini kulihat Ryn sangat akrab dengan Mey. Jangan-jangan nilai Ryn turun karena Mey…?”

“Bisa juga, sih… Kasihan Ryn… Padahal dia kan kebanggaan guru dan sekolah ini…”

Aku pun masuk ke dalam kelas. Suasana tiba-tiba menjadi hening. Aku menuju ke tempat dudukku lalu menaruh tasku di dekat kaki mejaku. Tiba-tiba ada beberapa teman yang menghampiriku dengan wajah kesal.

“Lihat…! Gara-gara kamu Ryn dipanggil oleh kepala sekolah.”, kata seorang anak.

“Huh,… Harusnya Ryn lebih berhati-hati dalam memilih teman. Berteman kok dengan anak sombong seperti ini.”, kata teman yang lainnya.

“Sadar diri, dong… Kamu ini bukan orang yang pantas untuk berteman dengan Ryn…!”

Mereka terus mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan tapi aku tak menghiraukan mereka. Aku berjalan keluar kelas lalu menuju ke ruang kepala sekolah.

Aku menunggu Ryn di depan ruangan kepala sekolah, aku juga sempat mendengarkan pembicaraan mereka.

“Akhir-akhir ini aku melihat kau bersama dengan Mey”, kata kepala sekolah.

“Aku tahu kalau kau cuma kasihan karena dia tidak mempunyai teman di kelas, tapi aku tak mau kalau kamu berteman dengan orang nakal seperti dia. Lihat,… Nilaimu menurun karena kau bergaul dengan anak itu. Maka dari itu aku memintamu untuk meninggalkan anak itu. Kalau tidak, sekolah ini akan kehilangan kebanggaan. Apa kata orang nanti?”

Awalnya Ryn hanya terdiam, mendengarkan perkataan kepala sekolah yang sebagaian besar hanya menjelek-jelekkanku. Tetapi setelah beberapa menit, tiba-tiba Ryn menyela kepala sekolah ,“Nilaiku menurun bukan karena aku berteman dengan Mey. Itu karena aku terlalu sibuk dengan kegiatanku yang bertambah banyak. Lagi pula, Mey bukanlah anak yang seperti bapak katakan. Mey menjadi seperti itu juga karena dia punya alasan tersendiri dan aku tidak akan meninggalkan dia. Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi aku permisi dulu.”

Mendengar perkataan pak kepala sekolah aku tersadar bahwa aku ini tidak pantas menjadi teman Ryn. Ryn adalah anak yang pintar, manis, dan menjadi kebanggaan teman-teman, guru bahkan kepala sekolah. Sedangkan aku. Aku hanya anak jelek yang dianggap sombong juga nakal. Tapi mengapa Ryn mau berteman denganku? Kenapa juga dia membelaku? Tanpa tersadar, air mataku mulai menetes.

Ryn yang baru saja keluar, melihatku menangis. Dia kebingungan dan terus bertanya padaku kenapa aku menangis. Ryn berusaha menenangkanku tapi aku mendorongnya.

“Kenapa? Kenapa kamu mau menjadi temanku? Padahal aku ini tidak pantas menjadi temanmu. Karena aku pula kamu sampai dipanggil oleh kepala sekolah. Nilaimu juga menurun karena aku. Tapi kenapa kamu membelaku?”

Ryn terdiam. Lalu mengangkat wajahku. Kulihat dia tersenyum lembut dan berkata ,”Itu semua karena kau adalah temanku. Hari itu aku sudah berjanji bahwa aku takkan meninggalkanmu dan aku akan menepati janjiku.”

Aku yang mendengar kata-kata itu langsung menangis sekeras-kerasnya. Ryn jadi sangat amat bingung bagaimana menghentikan tangisku.

Besoknya, saat jam istirahat, aku dan Ryn duduk di kursi taman sambil memakan bekal kami.

“Fiuh,… Tak kusangka ternyata pak kepala sekolah adalah orang yang hanya mementingkan nama.”

“Euhm,… Ryn… Aku mau bilang kalau kami sekeluarga harus pindah lagi ke kota sebelumnya karena kerjaan ayah di sini sudah selesai.”

“Eeh…? Huuh… Kalau seperti itu jadi tidak bisa bertemu, dong… Ah! Gimana kalau aku juga pindah ke sana? Lagi pula aku mendapat tawaran untuk sekolah di sekolah yang bagus di kota itu.”

“Benarkah?”

“Iya.”

“Kau memang temanku yang paling baik…!!”

Ryn dan keluarganya serta aku dan keluargaku pindah ke kota itu. Ryn melanjutkan sekolahnya di sekolah terbaik dan aku juga melanjutkan sekolahku di sekolah yang baru. Meskipun kami tidak bisa bersekolah di sekolah yang sama, kami masih sering bermain bersama bahkan rumah kami jaraknya tidak terlalu jauh dan kami menjadi teman yang sangat akrab.

Lalu kusadari bahwa perasaan tidak nyaman malam itu karena aku tak mau terpisah dari Ryn. Ryn adalah teman baikku dan aku tak mau kehilangan dia. Karena dialah rasa percayaku terhadap kata ‘teman’ bukan hanya mulai timbul tapi rasa percaya itu sudah kembali seutuhnya.

Bagaimana denganmu?

Gloria, Year 10 Cambridge

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: