Sendiri

Hidup di dunia ini sepertinya sangat menyakitkan… Diriku yang hanya umur 21 ini harus menjadi saksi peperangan antara dua kerajaan. Mengapa? Aku hanyalah seorang mahasiswa yang berumur 21! Seharusnya aku saat ini berada di sekolah, belajar, bergurau dengan teman, mengerjai guru… Tapi tidak, aku tidak diberi kesempatan untuk melakukan satupun kegiatan itu… Perang berada di depan mataku.

Aku begitu bodoh, seharusnya tidak keluar dari lingkaran hidup yang nyaman itu. Setiap hari hanya bergurau dan bermain, tidak pernah masuk kelas dan berlajar dengan tekun. Lantas mengapa aku memilih untuk berperang? 

Hanya ada satu hal yang bisa aku katakan, karena aku sendiri. Karena aku tak memiliki teman, karena perempuan yang aku cintai telah tiada. Karena semua ang aku kasihi telah dirampas oleh kerajaan lawan…

Aku tidak akan pernah lupa, hari di mana semua itu hilang. Hari di mana seharusnya aku melamar dirinya… Hari itu 15 Mei 2015, dirinya terlihat begitu cantik memakai gaun yang aku berikan. Rambut hijaunya tertiup angin seakan-akan menari bahagia. Aku telah merancang baik-baik, cara melamarnya. Yah, rancangan itu flawless, aku membawanya ketempat di mana kami pertama bertemu, aku membawanya ke restoran di mana kami melewakan kencan pertama kami. Dia tertawa dan aku pun tertawa, oh begitu indahnya suara tawanya. Mukanya terlihat begitu bahagia, terutama saat aku mengeluarkan kotak kecil dari kantongku. Dia kaget, aku menanyakan satu pertanyaan yang dapat merubah hidup kami berdua. Hatiku begitu senang saat dia setuju ingin melewatkan sisah hidupnya bersamaku. Aku memasangkan cicin berlian itu, kami berdua tersenyum. Saat itu, aku merasa seperti laki-laki yang paling beruntung di dunia. Tapi ternyata, hidup begitu kejam terhadapku, saat aku mengatakan “Sekarang kita dapat hidup bahagia”, tiba-tiba bom meledak. Badanku yang terpental terasa ditarik ke seluruh arah. Saat aku sadar akan situasi aku langsung berlari ke arah dirinya, mata unguku kaget saat melihat sosok berambut hijau di lantai, seakan tak bernyawa.

“Cataryna!!!” suaraku berteriak, kuangkat tubuh putihnya yang tergores-gores dan menangis. Hatiku hancur berkeping-keping. Dia tersenyum kepadaku, “Aku bahagia… Di saat sebelum mati, engkau pun ada di sisiku… Berjanjilah padaku… Saat kita bertemu lagi, kau akan selalu di sisiku juga…” Dengan begitu bibirnya mendekat dan untuk sesaat saja, aku merasakan kebahagiaan terakhirku.

Hatiku pilu melihat tubuhnya melemah dan detak jantungnya mulai lambat. Senyumnya tidak menghilang, sampai detak jantung terakhir pun dia tetap tersenyum. Aku melihat ke arah asal-usul bom dan di sana, berdirilah pasukan-pasukan dari negeri lawan. Wajah-wajah pembunuh itu memandang kami seakan-akan kami serangga yang mengganggu pemandangan.

Pistol pun ditodongkan ke arahku, mataku melebar tapi hatiku sedikit senang. Setidaknya aku mati dengan orang yang paling aku cintai di sisiku. Suara tembakan terdengar dan aku menunggu ajal menjemputku. Tapi memang, hidup kejam terhadapku, peluru tidak sampai pada jantungku. Aku kaget saat melihat sosok berambut cokelat menlidungiku dari tembakan, Gino, sahabatku telah mati untukku.

Hatiku seakan-akan dijahit kembali lalu di sobek ulang, dua orang yang paling penting di hidupku telah meninggal, di bunuh oleh orang yang sama. Dadaku terasa sesak, darahku terasa seakan mendidih 200 derajat. Saat itu pasukan kerajaanku datang menolong dan pasukan lawan dikalahkan untuk sementara. Hari itu aku berjanji kepada diriku, aku akan mengalahkan kerajaan lawan, demi Cataryna dan Gino.

Kini aku berada di garis depan, menunggu perintah untuk menghabisi lawan. Hatiku sudah beku dan aku telah meninggalkan hidup lamaku. Aku sendiri, tapi aku tak merasa kesepian. Karena hatiku sudah tak memiliki perasaan, karena aku sebenarnya telah mati…

 by: Carrie S. Sany/ X IGCSE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: