Terlambat Satu Hari

Selasa, 14 Agustus 2007.
Ponselku menunjukkan pukul 12:27, berarti tiga menit lagi aku harus kembali ke kelas. “Habis ini pelajaran apa?” tanyaku. Ben menjawab, “Sosiologi”. Ben mulai berteman temanku ketika kami masih kelas satu SD. Bulan lalu kami berdua barusan masuk kelas dua SMA di jurusan IPA, akhirnya kami ada dalam satu kelas, dan sampai sekarang aku dan Ben berteman baik.

Aku masih ingat jelas ketika aku bertemu dengannya. Dia orang yang diberi Tuhan talenta dalam bidang seni. Dari dulu dia sudah dapat menulis puisi-puisi yang indah, menyanyi dengan merdu, bahkan melukis dengan baik. Jarang sekali menemukan teman yang punya talenta sebanyak ini. Apalagi dia jago di bidang olahraga. Dia paling suka bermain soccer, tapi sebenarnya dia juga suka basket, badminton, dan voli. Sebaliknya, aku lemah di seni, dan aku tidak menyukai olahraga. Aku cenderung menghabiskan waktu bermain game, mendengarkan musik, jalan-jalan ke mall, dan seterusnya. Pelajaran yang aku suka tidak berhubungan dengan seni, aku malah menyukai matematika, fisika, biologi, dan komputer.

Aku dan Ben sebenarnya pribadi yang demikian berlainan. Aku benar-benar tidak ingat bagaimana kita mulai berteman dulu, yang penting kami sekarang adalah teman dekat.

Akhir-akhir ini kami sering mengerjakan tugas dan proyek dalam satu kelompok. Kami juga sering jalan-jalan ke mall bareng teman-teman yang lain, termasuk Cindy, temanku yang kukenal sejak kelas satu SMP dan kini juga cukup dekat denganku. Cindy adalah teman sekelasku, sama seperti Ben. Caraku berteman dengan Ben tentu berbeda dengan caraku berteman dengan Cindy. Ben adalah cowok seperti saya, sedangkan Cindy imut-imut menggemaskan. Jangan salah kaprah, aku tidak jatuh cinta pada Cindy. Aku cuma enjoy berteman dengannya. Cindy memang cantik, pula ‘enak diajak omong’, dan sepertinya kita bisa memahami perasaan satu sama lain.

Aku dekat dengan Ben, aku juga dekat dengan Cindy, namun sepertinya Cindy tidak dekat dengan Ben. Aku bisa mengerti bahwa mereka memang bukan tipe orang yang akan dekat satu sama lain. Memang tidak ada alasan yang jelas, tapi demikianlah keadaannya.

Lima bulan berlalu, dan saat ini kalenderku terbuka pada bulan Januari 2008. Semester dua dimulai hari ini. Ketika saya tiba di kelas, ada sesuatu, eh, seseorang yang menarik perhatianku. “Ada murid baru ya?” Cindy tiba-tiba nyeletuk di sebelahku. Aku terlalu fokus ke anak baru itu sehingga aku tidak sadar bahwa Cindy datang. “Namanya Isabel. Dia baru pindah dari Aussie, tapi dia bisa bahasa Indonesia koq. Sekolahnya dulu itu sekolah khusus cewek, jadi ini pertama kalinya dia di sekolah yang ada cowoknya” tambah Cindy. Aku jadi penasaran, apa yang akan terjadi bila seseorang dari sekolah khusus wanita mendadak pindah ke sekolah campuran. “Kenapa? Isabel cantik ya?” kata Cindy. Yup, Cindy tahu saja apa yang sedang kupikirkan. Ah, tak kenal maka tak sayang. Siapa juga sih.

Seminggu berlalu, aku mulai menyadari bahwa Isabel adalah siswi yang bright. Aku jadi ingin tahu lebih tentangnya, tapi aku tidak pede. “Ya ajaken kenalan to” Ben menanggapi sikapku. “Ngga apa apa nih? Kan baru satu minggu?” kujawab. “Mank kenapa?” sahut Ben, “Tak kenal maka tak sayang, makin kenal maka makin sayang.” Hehehe, ada-ada saja si Ben.

Sore sepulang sekolah, aku kebetulan berencana pergi ke ruang komputer untuk mengerjakan proyek Biologi. Aku sendirian bersama satu guru pengawas. Aku barusan menekan tombol power di PC sehingga saat itu masih menunggu proses booting. Tak kusangka Isabel datang dan duduk di depan komputer yang persis di belakangku. Dia menekan tombol power PCnya. Akhirnya aku dan dia sama-sama menunggu komputer masing-masing booting.

Aku mencoba berkenalan dengannya. Karena bahasa Inggrisku tak keruan, aku mengajaknya berbicara dengan bahasa Indonesia. Syukurlah Isabel ternyata cukup fasih berbahasa Indonesia meskipun pindahan dari Aussie. Toh, orang-orang bilang banyak orang Indonesia pindah ke Aussie untuk bersekolah. Wajar bila Isabel bisa berbahasa Indonesia, meskipun mungkin tidak selancar kita-kita. Aksennya jadi agak aneh karena campuran logat Inggris, namun tidak seperti Cinta Laura dan artis-artis seperti itu. Cara Isabel berbicara sebenarnya enak didengar.

Tak sadar kita mengobrol terus, tentang keluarga, teman-teman, kehidupan, suka dan tidak suka, dan lain-lain. Kusadari bahwa Isabel sebenarnya mirip denganku. Ia suka mendengarkan musik, bermain komputer, pelajaran matematika, dan sebagainya yang tidak jauh dari sifat-sifatku. Kita terus mengobrol dan berusaha mengenal satu sama lain, tidak lagi memedulikan komputer yang telah lama selesai booting.

Seminggu berlalu, dan selama itu aku menjalin hubungan dengan Isabel lewat SMS, telepon, IM, Facebook dan sebagainya. Kita juga pergi bareng dan makan bersama.
Minggu ketiga bulan Januari, kusadari aku telah jatuh cinta pada Isabel. Aku terus memikirkannya sepanjang hari. Ketika aku bangun tidur, di benakku ialah Isabel. Di sekolah, aku terus memperhatikannya. Sepulang sekolah pun kami SMS-an dan telepon hingga berjam-jam. Kami sampai bergonta-ganti operator telepon seluler mencari tarif termurah.
Tak lama kemudian niatku muncul untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Aku mulai tak sabar, jadi aku berpikir untuk ‘menembak’ Isabel akhir bulan ini. Aku benar-benar ingin ini menjadi momen yang begitu spesial. Aku pun sibuk menyiapkan rencana. Mulai mencari coklat, mainan, kata-kata, bunga, dan seterusnya. Ketika melihat kalender, tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk mengubah rencana.

Bulan depan ada temanku yang akan berulang tahun, namanya Valentino. Maklum, tanggal kelahirannya 14 Februari. Namun tahun ini aku tidak akan sibuk memikirkan rencana untuk menjahili dia, karena pada hari Valentine mendatang ini, aku akan menyatakan isi hatiku kepada Isabel.

Aku disibukkan dengan proyek dan tugas sekolah yang menuntut diselesaikan secepatnya. Sembari memikirkan rencanaku untuk Isabel, aku harus mengerjakan PR yang diberikan guru-guru. Mana mereka peduli apakah aku berencana ‘menembak’ cewek atau tidak.

Saat itu minggu pertama bulan Februari. Aku sedang break. Aku membuka ponselku dan melihat-lihat inboxnya. Aku kaget, bahwa SMS per hariku dengan Isabel yang dulu sekitar 200 SMS per hari menjadi hanya 30 SMS per hari. Aku bingung. Mana mungkin turun 170 SMS per hari hanya gara-gara aku sibuk mengerjakan tugas? Ketika aku membaca call log, ternyata kini aku tidak lagi berbicara dengannya berjam-jam seperti dulu. Aku masih cinta kepada Isabel, tapi bagaimana ini terjadi? Aku tidak peduli dan meneruskan memikirkan rencanaku menyampaikan perasaan kepada Isabel.

Selama beberapa minggu itu Cindy sepertinya menjauh dariku. Aku menghubunginya untuk mengobrol santai dan akhirnya kutemukan bahwa Cindy menyadari aku dekat pada Isabel. Cindy sengaja memberikan aku waktu untuk bersama Isabel. Sedangkan Ben, aku sendiri tidak yakin apa saja yang sedang menyibukkannya. Yang kutahu, kita punya kesibukan sendiri-sendiri.

Sepulang sekolah tanggal 13 Februari, aku makin tegang. Besok aku akan ‘menembak’ Isabel. Semuanya sudah siap. Kata-kata yang indah, coklat, bunga, hadiah, dan sebagainya. Besok aku akan membuatnya bahagia. Namun, sebelum itu, aku ingin mengobrol dengannya, menghabiskan waktu kita terakhir sebagai ‘teman dekat’, barulah besok moga-moga kita akan menjadi pacar. Hehehe. Aku pun mencari Isabel di sekolah. Di ruang komputer, tidak ada. Di kantin, tidak ada. Di kelas, tidak ada. Ponselnya tidak aktif. Anehnya, teman-teman juga pada hilang semua entah ke mana. Aku pun turun ke lapangan basket.

Aku tidak menikmati apa yang kulihat di sana. Ada dua orang di tengah lapangan yang sedang dikerumuni puluhan murid, yaitu teman-temanku. Puluhan mata tersebut tertuju ke dua orang di tengah lapangan. Satu pria, satu wanita. Dua orang itu tak lain adalah Ben dan Isabel. Isabel berdiri dan tampak tegang, namun senang. Ben tampak tegang pula, namun ia mengenakan blazer dan membawa sebatang mawar. Ben berlutut di depan Isabel. Aku melihat kerumunan teman-temanku itu mengeluarkan kamera, baik kamera ponsel maupun kamera digital, bahkan camcorder. Aku tidak masuk ke dalam gerombolan itu tapi aku cukup tinggi untuk bisa dengan jelas melihat Ben dan Isabel.

“Isabel,” sebut Ben. Aku tegang, demikian pula massa yang memegang kamera-kamera itu. Isabel pun tampak tegang. “Maukah kau… …jadi…” ucap Ben tanpa mampu menyelesaikan kalimatnya. Aku berkeringat. Mendadak… “Maukah kau jadi… pacarku?” kata Ben. Puluhan orang di sana bersuara heboh. Aku tidak percaya ini. Rasanya seakan-akan dunia nyata telah bercampur dengan mimpi gila.

Isabel pelan-pelan meraih mawar yang di ada di genggaman Ben. Dia mengambil mawar itu, mencium mawar tersebut, kemudian… Isabel menganggukkan kepala. Sekolah menjadi begitu ramai, suara heboh dari teman-teman yang tidak merasakan apa yang kurasakan.

Aku ingin bangun! Ini pasti mimpi! Tapi siapa yang bisa kubohongi? Ini dunia nyata, bukan mimpi gila. Aku rasanya hancur berkeping-keping. Sia-sialah kuntum-kuntum bunga, rangkaian kata-kata, hadiah dan cinta tulus yang telah kusiapkan untuk Isabel.

“Maaf ya” Cindy mendadak muncul lagi untuk menghiburku. “Aku juga nggak tahu apa-apa,” kata Cindy. “Ngga apa-apa”, balasku, “thanks ya.”

Keesokan harinya, hari Valentine tiba. Aku tidak pergi ke sekolah. Entah apa yang terjadi padaku bila aku melihat Ben bersama Isabel. Aku menghabiskan hariku menonton MTV dengan volume keras. Sore itu Cindy datang ke rumahku. Cindy menemukan bunga-bunga mawar, coklat, dan hadiah yang terbungkus cantik di tempat sampah di luar rumahku. Aku pun membuka pintu dan kita duduk di ruang tamu. “Mungkin dia bukan untukmu,” hiburnya, “Mungkin bukan dia yang Tuhan berikan untukmu.” “Thanks ya. I’m glad I still have you,” hanya itu yang kukatakan kepada Cindy.

Malam itu aku dan Cindy masak Chicken Steak di rumahku. Kami menikmati malam dengan makan bersama sambil menonton DVD Madagascar 2. Kami juga bermain game, bertukar musik, becanda, bahkan menyaksikan The Simpsons untuk menghiburku. Tampaknya Cindy mau melakukan apapun untuk membuatku senang. Sebelum larut malam Cindy pulang, dan aku pun tidur. Aku melupakan masalahku, melupakan masa lalu,  karena aku ingin memulai kisah baru.

_____________________
Michael Jonathan | 10.3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: