Cinta Tiada Ujung

“Sampai jumpa.. Ku akan menungu hingga dirimu kembali disampingku.. Hidupku hanya untukmu.. pujaan hatiku..”  Tetesan air mata begitu saja mengalir sambil Sonia menyelesaikan kata-kata terakhir pada suratnya untuk Bams. Seharian penuh Ia menyempatkan waktunya untuk membuat beberapa kerajinan tangan sebagai kenangan yang manis sebagai tanda rasa sayangnya pada Bams pujaan hatinya. Karena keesokan harinya Bams sudah harus pergi ke negara tetangga untuk beberapa tahun lamanya. Tak sadar, sambil menggunting beberapa kertas Sonia teringat masa-masa pertama pada saat berkenalan dengan Bams. Pada saat itu adalah Masa Orientasi Siswa SMU Kasih. Sosok gadis perawan yang ramah, ceria, imut, dan cerdas dengan pakaian seragam yang dipakainya itu mengawali masa SMU dengan semangat dan penuh keceriaan. Di masa remaja yang sangat dinantikan ini Sonia bermimpi untuk berjumpa dengan seseorang yang dapat menggugah hatinya. Dimana yang sangat Ia harapkan adalah dapat betemu disekolahnya yang baru nanti. Dengan bergegas Ia segera berangkat ke sekolah. Sesampainya didepan gerbang sekolah, terlihat beberapa kakak pembina OSIS yang menyambut kedatangan para murid baru di depan gerbang sekolah dengan aksi usil mereka. Sonia salah satu murid baru tersebut patuh dan sabar menghadapinya sambil menggunakan beberapa atribut yang sudah dianjurkan sebelumnya. Tak terasa satu hari lagi MOS berakhir. Lega rasanya telah melewati hari-hari yang cukup menegangkan dan melelahkan. Hari terakhir ini Sonia dan semua murid baru lainnya menginap disekolah. Malam terakhir itu sebelum semua beristirahat diadakan sebuah acara api unggun. Semua siswa baru, panitia, dan sebagian guru duduk berjajar melingkar. Api unggun ditengah-tengah mereka menjadikan suasana menjadi lebih akrab dan hangat. Tak lama kemudian sentuhan tangan dibahu siswi SMU berbadan mungil itu mengagetkannya yang sedang hening menikmati suasana malam yang tak terlupakan. Dengan penuh rasa penasaran Ia menoleh lalu terngangah. Seseorang yang bertubuh tinggi, memiliki sorot mata yang tajam, memiliki senyuman yang manis menyapa Sonia. Suaranya yang lembut keluar begitu saja untuk meminta gadis berkulit putih itu untuk bergeser tempat agar Ia dapat duduk disebelahnya. Hal itu membuat Sonia makin canggung, jatungnya berdebar kencang. Sampai-sampai Ia menjawab dengan terbata-bata. Dirinya serasa berbunga-bunga, hatinya meleleh begitu saja. Terlintas perasaan yang meyakinkan bahwa inilah pangerannya kelak dan ingin untuk mengenalnya. Setidaknya untuk berteman saja pikirnya. Setelah beberapa jam acara berlangsung akhirnya selesai juga. Semua orang sibuk untuk cepat-cepat beristirahat ke tempat masing-masing. Lelaki tadi dengan yakin mengikuti jejak Sonia. Ia menghampirinya yang telah berjalan menuju kelas yang didalamnya di beri beberapa matras untuk tidur. Keinginan Sonia terkabul sekejap. Lelaki itu memanggil Sonia dan mengulurkan tangannya. Mereka berkenalan satu dengan lain. Namanya Bams alumni SMU Kasih paparnya.Tak tanggung-tanggung juga dengan percaya diri Bams meminta nomer ponsel Sonia dan Ia pun memberinya dengan senang hati. Malam yang cukup panjang terasa begitu singkat. Sang surya mulai menyinari pagi yang indah. Sonia tidur terlelap. Alaram yang dipasang di ponsel kesayangannya membangunkan dirinya. Sonia bangun dari mimpi indahnya dan bersiap untuk mandi, menata barang-barangnya dan pulang. Sosok Bams sama sekali tidak muncul. Beberapa minggu telah terlewati. Gadis yang berambut panjang tersebut melewati hari pertama sekolahnya yang menurutnya cukup menyenangkan. Guru-guru menyambutnya dengan ramah. Karena Sonia adalah tipikal yang ramah pula, ia disambut baik dengan teman- teman barunya dan mamiliki teman yang banyak. Lepas dari semua itu, Sonia mulai terbayang oleh Bams. Hanya harapan saja semoga Bams menguhubungi dirinya. Jam dinding menunjukan pukul empat sore hari. Waktunya untuk pulang sekolah. Sopir Sonia yang bernama Pak Karmo membawa mobil ke depan pintu sekolah agar Sonia dapat pulang tanpa membakar kulitnya yang putih dengan sinar matahari yang terik. Baru saja beberapa menit kemudian, ponsel majikan Pak Karmo tersebut berdering. Segera ponselnya dicari di dalam tas untuk mengangkat telpon tersebut meski mimik wajah yang lesu terpancar dan terlihat malas untuk mengangkatnya karena kelelahan. Nomer yang menghubunginya tidak tercatat di ponselnya. Segera ia mengangkat dengan penuh rasa penasaran. Terdengar suara yang tak asing bagi Sonia. Wooow.. tidak disangka ternyata Bams. Mulailah dari itu mereka semakin akrab. Setiap hari tangan mereka tidak lepas dari ponsel masing-masing. Bams sering mengajak dan menjemputnya untuk pergi menghabiskan malam minggu bersama. Lama-lama semua itu menjadi kebiasaan bagi mereka berdua yang tentu saja memacu perasaan yang lebih dalam. Sonia terlebih dulu merasakan hal itu, tapi Ia tidak percaya diri untuk meyakinkan dirinya sendiri. Hubungan yang mesra itu terjalin dua bulan. Tetapi tetap saja belum ada dari mereka kesepakatan untuk menjalani hubungan lebih serius. Sonia tidak ambil pusing. Pikirnya biarlah waktu yang akan menentukan saja. Baru saja Bams mengantar Sonia kerumahnya. Ponsel Sonia berdering mengagetkannya. Tanpa sapaan Bams langsung berbicara dengan nada yang serius. Keanehan dirasakan olehnya. Bams sebelumnya tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu. Penjelasan yang singkat diutarakannya bahwa satu minggu lagi Ia akan meninggalkan surabaya untuk melanjutkan sekolahnya di Malaysia. Sedih, cemas, bingung, dan perasaan lainnya tercampur aduk. Ia sangat takut kehilangan dia. Hari demi hari berlalu, semakin dekat pula hari kepergian Bams. Hari itu hari jumat dimana dua hari lagi Bams pergi. Sonia sedang terlentang ditempat tidur dengan masih memakai seragam putih abu-abu setelah sepulang sekolah. Ditekannya nomer ponsel Bams dengan hafal. Sonia yang mengawali pembicaraan itu dengan berat hati mengucapkan beberapa pesan dan kata-kata perpisahan untuknya. Ia menghela nafas dan berharap pada saat itu Bams dapat mencurahkan perasaan sama yang dimiliki Sonia padanya. Namun semua harapan sirna seketika. Telpon tiba-tiba terputus. Hati Sonia seperti ada api yang membakar. Tubuhnya lemas terkulai, wajahnya pucat dan tak mampu mengeluarkan sepatah katapun dari bibir mungilnya sambil melepas ponselnya. Air mata mengalir begitu saja menggenangi pipinya. kesedihan dan sakit yang dalam terpancar lewat sorot mata indahnya. Semalam suntuk ia termenung bagai tersambar tersambar petir. Tersadarlah ia dari lamunanya yang membawa dirinya semakin larut dalam kesedihan. Sambil mengusap air mata dengan tangannya yang mungil, Sonia merapikan barang-barang yang akan Ia berikan pada Bams. Kemudian diantar semua barang itu ke rumah Bams. Sesampai di depan rumah Sonia memberanikan diri untuk bertemu dan memberikan langsung barang tersebut. Entah mengapa dirinya tak mampu melakukan itu. Sopirnya yang turun dan menitipkannya pada adik perempuan Bams karena Bams sendiri tidak ada dirumah setelah itu Sonia kembali pulang. Tanpa ragu, Sonia langsung ke kamar. Ia merenung dan berdoa agar semuanya akan berakhir dengan baik. Sementara Bams yang telah berada di pesawat dengan telaten dan hati-hati ia membuka kerdus yang berisi jaket berwarna hitam. Ditambah dibawahnya tergeletak sepucuk surat. Dengan wajah penuh penasaran ia membuka dan membacanya dalam hati

” Hai Bams.semoga kamu suka dengan kado dari aku. Juga semoga kamu dapat sukses disana. Senang sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu meski hanya dengan waktu yang cukup singkat. Aku hany a ngin berterima kasih atas segala kebaikanmu. Maaf bila selama ini ada kesalahan yang membuat dirimu kecewa atau kesal. Tak tahu mengapa tiba-tiba keputusan yang cukup mengagetkanku telah kamu pilih. Aku percaya semua itu adalah keputusan yang terbaik buat dirimu dan juga diriku. Dari surat ini aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku yang selama ini aku pendam bahwa aku sayang kamu. Mungkin hal ini mengagetkanmu. Tapi tak ada tujuan apapun, hanya saja aku ingin kamu tahu yang sebenarnya dan jujur saja tak kuasa aku untuk memendamnya sendiri. Tapi meskipun setelah ini kamu tidak akan menggangapku lagi aku akan tetap menunggumu dengan setia. Tak peduli seberapa lama kamu akan kembali. Di sini, aku akan terus berdoa dan mendukungmu selalu. Sekali lagi kuucapkan dari hatiku yang paling dalam maaf dan terima kasih atas segalanya. Sampai jumpa.. kuingin menunggumu hingga dirimu kembali disampingku.. Hidupku hanya untukmu.. pujaan hatiku..”

1 Response so far »

  1. 1

    Fanny said,

    ide cerita umum…
    tapi cerita ini hidup….
    tapi… tanpa alinea…. wadow sakit mata, Fanda….
    perhatikan preposisi, penggunaan huruf ‘di’
    penggunaan tanda baca untuk kalimat langsung


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: