Desember/Akhir Tahun yang Indah di Jasca

 

Siang itu hujan lebat turun di Suscha. Chris baru saja pulang dari sekolahnya dan berjalan pulang sambil membawa sekantung buah apel yang baru saja dibelinya dari toko di dekat sekolahnya. Jas hujan kuning terlihat berkibar-kibar  tertiup angin, sampai-sampai Chris harus mencondongkan tubuhnya ke depan sedikit untuk menahan tubuh kurusnya dari tiupan angin kencang. Chris cukup menikmatinya, berjalan melintasi trotoar basah, dengan langit abu-abu pekat, entah kenapa  suasana tersebut membuat suasana hatinya tenang. Sesampainya di rumah, Chris melepas jas hujan kuningnya, menaruh buah tersebut di meja makan, dan dari arah ruang keluarga terdengar lantunan music jazz yang lembut. Meskipun bukan lagu natal, tapi suara wanita itu membuat Chris merasa sekarang adalah malam natal. Hari itu merupakan hari terakhir di bulan November, dan hanya butuh setengah hari lagi untuk memasuki bulan Desember. Chris hanya tinggal bersama Maggie, ibunya Chris, dan adik kecil perempuannya yaitu Anna. Masa kecilnya cukup menyakitkan, meski Chris belum merasakannya karena dia masih berumur tiga tahun saat momen tersebut terjadi. Sudah 15 tahun berlalu sejak kejadian tersebut.

Bulan Desember selalu terjadi hal-hal menyenangkan bagi Chris, atau mungkin Chris selalu merasa bahagia pada bulan Desember dan menganggap semua hal adalah menyenangkan. Hal yang paling menyenangkan bagi Chris mungkin pada saat pesta barbeque, meskipun bagi remaja lain itu merupakan hal yang biasa dan sering mereka lakukan.

Pada tanggal 19 Desember nanti Chris akan mengisi liburan Natalnya di Jasca, kota kelahirannya, bersama sepupu perempuannya, dan untuk menghadiri pameran seni dan mengikuti kontes fotografi di tempat tersebut. Untuk kedua kalinya, dia harus pergi seorang diri lagi. Ibunya tidak menemani Chris karena harus menjaga Anna dengan pengasuh bayi yang akan disewanya untuk membantu.

Pagi, tanggal 19 Desember, Chris sudah berangkat ke bandara. Segala proses pengecekan di bandara sampai memasuki pesawat yang akan mengantarnya ke Jasca sudah Chris lalui. Chris duduk di sebelah jendela pesawat, dan tiba-tiba seorang perempuan duduk di sebelahnya. Chris terkejut dengan kehadiran perempuan ini, rambut panjang sebahu dengan warna merah. Perempuan ini tidak asing lagi bagi Chris, dia satu angkatan dengannya. Dengan refleks Chris menyapa, setelah itu dia kaget akan sapaannya sendiri. Perempuan tadi langsung menoleh, menyipitkan mata ke wajah Chris sambil mengingat. “Chris?” Tanya perempuan itu. “Eh, ya… Apa kabar?” Nama perempuan itu Tiffy, sudah lama Chris menyukainya, dan Chris tidak pernah sedekat ini dengannya. Kondisi ini membuat Chris cukup bingung.  

Tidak terasa sudah satu jam mereka berada di dalam pesawat, dan hampir tiba di tujuan. Selama mereka berbicara, Tiffy selalu melihat jadwal konser band favoritnya dari majalah yang dibawanya. Chris selalu melihat kekecewaan di wajah Tiffy saat dia melihat jadwal dan foto band tersebut. “Kelihatannya kamu ingin sekali melihat mereka, kamu penggemarnya?” Tanya Chris. “Penggemar berat lebih tepatnya, tapi aku tidak bisa melihat mereka di Jasca nanti. Aku Tidak ada uang untuk beli tiketnya. Orang tuaku terlalu khawatir, karena acara tersebut sangat besar,dan mereka tidak terjadi sesuatu yang buruk padaku, kau tahu. Memangnya kamu hadir di konser mereka akhir tahun ini?” Tanya Tiffy sambil melihat foto tersebut. “Mungkin saja.” Kata Chris sedikit berbohong. “Mungkin aku akan mencoba membeli tiket lotere untuk membeli tiketnya, tapi kalau tidak dapat, mungkin aku hanya berkeliling menikmati Kota Jasca.” Kata Tiffy sambil tersenyum melihat Chris.

 Setibanya di Jasca, hujan lebat turun. Chris dan Tiffy keluar dari pesawat, menuju tempat pengambilan barang. Setelah itu mereka mengucap salam perpisahan dan Chris berharap mereka bisa bertemu lagi. “Lihat belakang, lihat belakang, lihat belakang. Ayo, melihatlah kebelakang.” Gumam Chris saat Tiffy berjalan menuju pintu keluar. Tapi Tiffy tidak menoleh sedikitpun, dan hal tersebut membuatnya kecewa. Chris berjalan keluar dengan kepala tertunduk, mencoba menghilangkan rasa kecewa tersebut dengan memikirkan hal-hal yang lain. Semua usaha tersebut gagal, yang teringat hanyalah Tiffy yang berjalan menuju pintu keluar.

Sepupunya, Vanessa, sudah menunggu di depan pintu kedatangan domestik, wajahnya membuat Chris melupakan kejadian tadi. Mereka berpelukan, berjalan ke mobil dan pulang ke rumah sepupunya. Hujan membasahi mobil mereka dalam perjalanan pulang. Masih pukul 10 pagi saat Chris tiba di rumah Vanessa, dan malamnya, Chris akan menghadiri pameran seni dan kontes fotografi bersama Vanessa.

Pukul 6 sore, mereka sudah berangkat. Bintang tidak kelihatan, menandakan langit sedang mendung. Setibanya di gedung pameran, kamera sudah siap di tangan Chris, padahal kontes dimulai pukul 7.30, dan waktu sekarang menunjukan pukul 6.30, dan Chris masih punya banyak waktu untuk menikmati pameran tersebut. Saat Chris masuk ke dalam gedung tersebut, alunan musik blues yang cepat turut meramaikan susana di dalam ruangan tersebut. Gedung itu memiliki luas sekitar setengah hektar, dan terdapat dua lantai. Lantai pertama dipenuhi oleh pameran alat musik, sedangkan lantai duanya dipenuhi oleh kumpulan foto dan lukisan. Tempat tersebut kebanyakan dipenuhi oleh manula, ada yang sekedar melihat, ada juga yang membeli barang-barang yang dipamerkan. Chris hanya menghabiskan sepuluh menit di area pameran musik, dan naik ke tingkat selanjutnya untuk menyegarkan mata. Lampu sorot kecil dengan cahaya kuning menghiasi setiap lukisan dan foto di tempat tersebut. Chris tidak sadar bahwa Vanessa masih menikmati pameran musik di lantai bawah. Sambil tidak memikirkan sepupunya, Chris berkeliling, menikmati pameran tersebut.

Hampir satu jam Chris berkeliling di tempat pameran tersebut. Orang-orang dengan kamera di tangan berbondong-bondong memasuki ruangan yang letaknya terdapat di sudut gedung, dan luasnya hanya sekitar satu lapangan basket. Chris hampir lupa, dia akan mengikuti kompetisi tersebut. Cepat-cepat dia memasuki ruangan tersebut, mendaftar dan membayar pendaftarannya. Peraturan diberi tahukan oleh juri kepada seluruh peserta. Chris berada di barisan tengah, dan pesertanya kurang lebih 50 orang. Obyek-obyek foto seperti patung, tanaman, dan sebagainya terletak di pinggir ruangan.

Kontes pun di mulai. Chris kebingungan memilih obyek, hampir seluruhnya dikerumuni peserta. Semua obyek difoto oleh Chris, terkadang kembali ke obyek sebelumnya dan mengambil beberapa foto lagi. Chris menyeleksi fotonya dan dikumpulkan ke para juri untuk dinilai.

Dua puluh menit berlalu, dan pemenangnya telah diumumkan. Chris menempati peringkat tiga dengan hadiah souvenir dan uang tunai yang cukup banyak. Cukup membanggakan pikir Chris.

Dalam perjalanan pulang, Chris teringat akan Tiffy. Chris meminta Vanessa mengantarnya ke mall, agar Chris bisa memesan tiket konser band tersebut. Chris membeli satu tiket VIP, dan tiket tersebut adalah tiket terakhir. Perasaan kecewa sekaligus senang kembali muncul, Chris tidak bisa menonton konser bersama Tiffy, tapi dia bisa membuat perasaan Tiffy senang dengan tiket VIP di tangannya. Tiba-tiba Chris lupa kalau dia tidak punya nomor kontak Tiffy, dan tiket tersebut tidak dapat dikembalikan kecuali ada kondisi tertentu yang memungkinkan tiket tersebut dapat dikembalikan.

Malam Natal hanya dirayakan dengan pergi ke gereja bersama Vanessa dan makan malam di restoran. Hari itu cukup membuat Chris bahagia. Mereka pergi ke mall, membeli baju untuk perayaan tahun baru. Secara kebetulan Chris melihat Tiffy, tanpa pikir panjang dia menghampiri Tiffy, menyapa dan sesaat dia lupa akan tujuannya.”Ermm… Tif, aku punya tiket konser band favoritmu… Cuma  ada satu sih, tapi ini VIP, aku baru saja menang kontes.” Kata Chris canggung.”Hahaha… Chris, kebetulan aku baru saja menang undian, dan tiketnya sudah aku beli kemarin siang. Tapi, terima kasih buat tiketnya. Mungkin kamu bisa pergi ke konser itu denganku. Bagaimana? Kamu mau?” Tanya Tiffy dengan antusias. Chris mengiyakan tawaran Tiffy, Chris meminta nomor telepon Tiffy, dan berencana akan menjemput Tiffy.

Tanggal 31 Desember pukul 8 malam. Chris memakai mobil Vannesa untuk menjemput Tiffy, Vanessa pergi bersama temannya dan dijemput di rumahnya. Chris menjemput Tiffy di hotel tempat dia menginap, dan langsung berangkat ke tempat di mana konser tersebut diadakan. Mereka tiba 1 jam lebih awal dari jadwal, berjalan memasuki lapangan konser, lalu naik ke tempat VIP. Konsernya berjalan seru, Chris bisa menikmatinya, tapi dia lebih menikmati wajah Tiffy yang bersemangat. Akhir acara ditutup dengan perayaan tahun baru. Hitungan mundur selama 1 menit dimulai, “3… 2… 1…” Sorak mereka bersama penonton yang lain, dan ketika itu juga, pada hitungan ke nol, Tiffy mencium pipi kanan Chris. Chris tersontak kaget, melihat wajah Tiffy tersenyum senang dan malu, “TRIMS ATAS MALAM INI CHRIS!” Teriak Tiffy, suaranya hampir tenggelam dalam sorak penonton. “YAH!!! SAMA-SAMA!!!” Balas Chris teriak.

Untuk yang kesekian kalinya, Chris merasakan kebahagiaan melandanya, tapi kali ini dengan perasaan cinta yang begitu besar. “Bulan Desember yang membahagiakan,” kata Chris dalam hati. “Trims Jasca!” katanya lagi dalam hati.

T.Kevin 10.1

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: