Kasih dengan Setitik Air Mata

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Langit yang semula terang, tiba-tiba menjadi gelap. Kerumunan orang mulai ribut bersiap-siap menyambut kedatangan hujan. Gemuruh petir mulai terdengar. Depot-depot mulai tutup, gerobak penjual bakso mulai di jalan kan. Anak-anak yang semula bermain jungkat-jungkit, berlarian menyambut kedatangan orang tua nya. Anak-anak yang tinggi mulai memakai jas hujan dan mengendarai motor nya. Ku lihat para guru kami juga buru-buru keluar dari sekolah.

Hujan pun turun begitu deras, suara petir menaikan bulu kudu ku. Mengamati dari suatu jendela yang setengah terbuka, kuintip keluar melihat angin yang bertiup kencang. Ku hembus kan nafas yang panjang dan menunggu di kelas dengan beberapa anak yang lain nya. Satu per satu mulai keluar dari pintu kelas berpelukan dengan orang tua mereka. Guru kelas kami sibuk mengantarkan anak-anak yang lain ke orang tua masing-masing serta menyuruh kami murid-murid yang belum di jemput untuk tunggu di kelas. Sisa 5, 4, 2… , aku lalu duduk melipat tangan dan tertunduk kecewa. Pintu kelas terbuka lebar, angin yang masuk bisa kurasakan. Dingin berada di kelas sendirian, gemetar mendengar suara petir yang begitu dekat.

Kutunggu dan tunggu tetapi tidak ada panggilan. Kututup pintu dan jendela, kutarik beberapa meja dan duduk di pojok, berpikir membuat benteng akan menghangatkanku. Kuambil tasku dan kupeluk. Pintu terbanting keras, aku kaget terbangun dengan setengah sadar. “Mengapa kamu di pojokan nak?, ayo, ibu antar pulang.” Mendengar ucapan lembut itu aku berdiri. Dia mendekati ku, mengambil jaket nya dan memakai kan nya pada ku sambil berkata “Ayo kamu harus tegar.”. Setelah memakai jaket dan berterima kasih, aku baru sadar itu guru kelas ku. Dia melihat ku dengan senyuman yang manis, lalu aku pun di gandeng keluar. Di bonceng di pangku depan, aku terdiam tidak bisa berkata-kata. Hanya suara hujan yang terdengar di telingaku. Ku bingung di satu sisi yang terasa dingin dan kecewa kenapa aku dibiarkan sendirian, tetapi di sisi lain terasa hangat, senang, dan berterima kasih karena ada yang datang menolong.

Sesampai nya di depan rumah, dengan polos ku cepat-cepat masuk ke rumah untuk main. Padahal, jika dipikir-pikir lagi, aku adalah murid ternakal di kelas. Selalu meramaikan suasana, mengganggu teman sebangku, nilai pas-pasan dan pemimpin dari biang onar. Mengingat itu aku berhenti sejenak, dari dalam hati terdengar suara yang menggumam berulang kali. Hati ku mulai terasa tidak nyaman, bukan karena kedinginan, tetapi ada perasaan yang amat menusuk. Ku abai kan dan hanya berfikir untuk main.

Malamnya, dengan perasaan yang tak nyaman, ku berusaha untuk tidur. Ku kosongkan kepala ku, tapi tidak bisa. Di dalam kepalaku, selalu muncul suatu suara, petir dan hujan tak terdengar. Suara lembut itu yang menyelimuti segalanya. Malam itu kejadian tadi terngiang-ngiang di kepala ku. Di dalam hati ku terasa perasaan yang mengganjal. Ku ingat nasehat orang tua ku yang selalu mengingatkan ku untuk berterima kasih. Perasaan ku sangat gelisah ingin ke kamar orang tua tapi sudah larut malam. Ku intip dari cela pintu, sudah gelap tanda lampu sudah di mati kan. Walau ada keinginan untuk bercerita kuputuskan untuk kembali dan mencoba tidur dengan berfikiran kutunda besok.

Esok sudah terlambat, tidak ada jawaban waktu kuhubungi. Yang tersisa hanya informasi bahwa guru itu harus resign karena harus membantu orang tua nya di luar pulau. Sekarang, yang ku lihat hanyalah peti kenangan yang ditutup dengan rapat agar tidak bisa dibuka. Di depanku hanyalah genangan air yang menetes penuh dengan duka dan kesedihan. Hanya bisa mengenang dan mengingat tetapi tidak bisa berbuat. Apa daya hati dengan penyesalan yang tak terselesaikan. Kuingat kembali kata-kata nya “Ayo, kamu harus tegar.” dengan menesteskan setitik air mata.

Ian Griffin

1 Response so far »

  1. 1

    Fanny said,

    Ian…. beberapa paragraf awal tidak tampil di blog. Ulang lagi aja postingnya. Saya tunggu…🙂


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: