Aku, Sebatang Kara

Di suatu pedesaan di bawah kaki gunung, hiduplah sebuah keluarga yang hidup dengan sangat damai,rukun,dan bahagia. Rumah yang hanya terbuat dari tumpukan jerami dan kayu-kayu bekas itu tidak menjadi masalah buat mereka, yang mereka butuhkan adalah cinta dan kasih sayang keluarga. Keluarga yang hanya terdiri dari seorang ayah,ibu, dan dua orang anak ini hanya disertai kecukupan yang terkadang tidak cukup untuk makan. Mereka hidup dari ayahnya yang bekerja sebagai tukang pembersih sepatu dan ibunya yang tidak bekerja. Terkadang mereka tidak makan karna pendapatan ayahnya tidak ada. Tetapi sukacitalah yang selalu memenuhi hidup mereka. Terkadang Aldi, putra sulung mereka membantu ayahnya dalam bekerja. Ia anak yang ramah dan ulet dalam bekerja. Aldi mempunyai adik perempuan yang bernama Hilda. Hilda masih tidak dapat membantu kakak dan ayahnya karna ia masih balita dan butuh perhatian.

Suatu pagi tepat tanggal 23 Desember, merupakan saat-saat yang menyenangkan bagi desa dan keluarga mereka, karna akan ada hari Natal datang menyambut mereka, dan setiap hari Natal, mereka selalu merayakan dengan berbagai hiasan dan pohon-pohon Natal di sepanjang rumah-rumah dan jalan. Walaupun keluarga Aldi tidak berkecukupan ia akan tetap merayakannya dan menghiasinya dengan barang-barang bekas yang mereka temukan di pembuangan sampah atau dipinggir-pinggir jalan. Mereka siap untuk bersukacita bersama Natal.

Tepat tanggal 24 Desember pukul 23.55 seluruh warga sudah berkumpul di satu lapangan untuk merayakan Natal. Lapangan itu tepat di bawah gunung dan terdapat sebuah pohon pinus besar yang terhiasi oleh lampu-lampu berwarna-warni. Mereka membentuk lingkarang yang mengelilingi pohon pinus tersebut. Mereka sudah siap menyambut Natal yang akan mewarnai kebahagiaan mereka. Pada pukul 23.58 mereka semua sudah berdiri dan bersiap-siap untuk bernyanyi, tetapi tiba-tiba sebuah lampu jatuh dari atas pohon tersebutdan mereka bergumam, Aldi merasakan ada getaran dari kakinya tetapi ia tidak mempedulikannya karna itu mungkin gemetar kebahagiaan karna akan menyambut Natal. Tetapi getaran itu terjadi lagi dan slebih keras, semua wrga juga merasakannya. Pada pukul 12 tepat, terjadilah gempa ditengah-tengah mereka sehingga terjadi tanah longsor di sana. Semua hancur, pohon yang terlihat indah dengan lampu-lampu itu hilang seketika, tawa dan bahagia yang seharusnya ada berganti dengan ketakutan, teriakan, dan tangisan dimana-mana, sebagian warga terkena longsor pada saat itu juga, sebagian lagi lari ke dalam rumah mereka masing-masing, keluarga Aldi semua lari ke dalam rumah, tetapi alangkah buruk nasib Aldi, rumah mereka terkena longsoran dan menghancurkan gubuk mereka, orang tua Aldi terkena batu-batu besar itu tetapi Aldi dan Hilda terselamatkan karna didorong orangtua mereka keluar dari rumah saat longsoran itu menerpa rumah mereka. Beberapa menit kemudian gempa itu berhenti dan hanya Aldi dan Hilda yang selamat dari bencana itu.

Hilda hanya bisa menangis dan Aldi pun sesungguhnya ingin menangis, tetapi ia menahannya karna tidak ingin membuat Hilda bertambah sedih. Aldi merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk menghidupi dan menjaga adik sekaligus dirinya dalam usianya yang baru 10 tahun. Ia takut untuk menghadapi itu. Ia teringat akan pamannya yang ada di kota, lalu ia memberanikan diri untuk pergi ke kota bersama adiknya,Hilda. Ia tidak tahu dengan cara apa ia ke sana. Tetapi keuletan dalam dirinya bisa membuat ia sampai di kota. Sesampainya ia disana ada selembar Koran yang menabrak muka Aldi karna angin, lalu dibacanya oleh Aldi. Ternyata pamannya sudah meninggal tiga hari yang lalu. Ia sangat-sangat ingin menangis tetapi ia berusaha tegar di depan Hilda. Ia benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan. Ia baru ingat, ia mempunyai keahlian dalam membersihkan sepatu. Aldi dan Hilda mulai bekerja di kota dengan menjadi tukang pembersih sepatu. Mereka menangis saat menerima uang pertama mereka, mereka merindukan orangtua mereka. Tapi mereka selalu diajarkan untuk tetap bahagia dalam menjalani hidup ini, dan mereka akan terus lakukan itu, selamanya sebagai sebatang kara.

Valentino

10.2

1 Response so far »

  1. 1

    windii said,

    lentyy..
    huahaha
    apik lo crtamuu.
    tapi sayange aku bukan gurumu
    jadi ga tau
    hahaha
    tunggu cmment dri miss fanny
    aq ga berharap di kasik cmment wes
    mak njlebbb
    mending diem ae
    di kasik nilai pkoke
    wakakak


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: