Aku Tak Sebodoh Itu

SMA?? Wah! Itu saat-saat yang paling menyenangkan, jangan dilewatkan!”. Banyak orang mengatakan bahwa kehidupan di saat SMA adalah kehidupan yang sangat amat menyenangkan. Mengapa demikian? Karena disaat SMA, kehidupan yang jauh lebih bebas dapat engkau miliki, engkau memiliki banyak teman-teman, banyak pengalaman-pengalaman baru yang akan engkau dapatkan dan tak akan terlupakan di masa-masa SMA.

 

            Namaku Nero. Sekarang aku berumur 15 tahun. Akhirnya aku sudah menginjak SMA. Saat pertama kali ku membayangkan akan kehidupan di SMA, aku sudah membayangkan semua hal-hal yang menyenangkan untuk ke depan. Dimana aku akan memiliki banyak teman-teman untuk berkumpul, bisa berpergian kemana pun tempat yang aku suka bersama dengan teman-temanku, menghabiskan waktu saat weekend bersama dengan gerombolanku sampai larut malam. Yah, itupun hanyalah khayalanq. Ternyata kehidupan di SMA adalah kehidupan yang cukup keras. Tak seindah yang orang ceritakan kepadaku.

 

            Sudah berbulan-bulan aku sekolah. Aku merasakan kehidupan yang sangat kesepian. Aku sudah ditinggalkan ayahku disaat aku berumur 14 tahun. Beliau meninggal karena mengidap penyakit kanker paru-paru yang mencapai stadium 4. Ibuku sibuk dengan perkerjaannya diluar pulau, di Sulawesi. Mungkin ia datang sekali-sekali ke Surabaya tiap 3 tahun sekali itupun hanya 1-2 minggu. Yang mengurusku dari aku kecil sampai sekarang bukanlah ibuku, melainkan 3 kakak-kakak perempuanku.

 

Kehidupanku di sekolah tidak terlalu menyenangkan juga. Aku hanyalah seorang yang maniak basket, nilai pelajaranku cukup lumayanlah. Aku tipe anak yang kurang suka berbicara banyak. Semua orang menganggap aku anak yang sombong, tidak peduli terhadap orang lain. Aku memiliki banyak teman, tetapi itupun mereka mendekati aku karena hanya untuk memperalat aku. Disaat mereka tidak memerlukan ku, mereka pasti tidak akan menanggapi aku lagi. Yah, habis manis sepah dibuang. Aku pun memiliki alasan mengapa aku menjadi anak yang kurang berbicara di sekolahku. Aku sekarang tidak percaya terhadap siapapun lagi. Teman? Apa itu? Kita semua memiliki musuh itupun karena awalnya bermula dari pertemanan. Kita bisa punya pacar itu karena berteman dahulu, dan pada akhirnya putus hubungan, sakit hati yang ada. Itu semua berawal dari teman. Yang ada hanyalah kebencian, sakit, air mata, ketakutan,kebohongan.

 

            Pergi sekolah, pulang sekolah, pergi sekolah, pulang sekolah. Pergi sekolah bertemu dengan teman-teman seperti itu, pulang sekolah bertemu dengan singa-singa perempuan yang selalu saja memarahi aku tanpa henti-hentinya. Seakan-akan aku ini hidup dikeluargaku hanya untuk menjadi sebuah alat pelampiasan kemarahan. Mereka memarahiku untuk hal-hal yang sepele, melebih-lebihkan sesuatu. Tiap kali aku berpendapat atau berbicara, mereka pasti akan menghiraukanku. Capek sudah aku dengan kehidupan sehari-hariku. Aku ingin, 1 hari saja dapat berkumpul dengan satu keluarga.

Tapi itupun hanyalah mimpi. Tiap kali ada pertandingan yang akan datang, aku mengajak kakak ku untuk menonton pertandingan itu hanya sebentar. 2 Hal yang pasti akan mereka lakukan kepadaku , tidak menganggapku berbicara ; menjawab dengan jawaban : “Aku lagi sibuk, waktu adalah uang”.

 

            Suatu saat, aku mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk sesuatu yang aku inginkan. Aku mengumpulkannya dengan cara menyisihkan uang jajanku, kerja sambilan, dan lain-lain. Aku tidur sampai jam 1 pagi tiap harinya, dan bangun pagi untuk bersekolah seperti biasa. Di sekolah pun aku melakukan kegiatanku seperti biasa, belajar, basket dan pulang. Hasil uang yang aku kumpulkan sudah terkumpul cukup banyak, tapi masih belum cukup untuk barang yang aku inginkan. Disaat biasanya setiap hari sabtu aku menggunakan uangku untuk berkumpul-kumpul dengan teman-temanku, sekarang aku menyimpannya. Aku berkoban, mematikan semua keinginanku selama ini hanya untuk mendapatkan satu keinginanku ini.

 

            Berbulan-bulan sudah aku mengumpulkan uangku dan hasilnya sudah cukup banyak, tapi masih belum cukup untuk membeli keinginanku yang sangat besar ini. Aku sangat capek dengan kegiatanku tiap harinya. Aku pun sudah merasa tak kuat untuk meneruskannya lagi. Akhirnya aku melakukan tindakan yang tak benar. Aku menjual barang-barang seperti rokok, video porno, alat kontrasepsi dan lain-lain dengan harga yang dapat menguntungkanku. Terkadang aku mencuri uang yang ada di toko-toko.

 

Suatu saat aku mencuri uang dari sebuah toko, aku ketahuan mencuri oleh salah seorang karyawan. Ia pun memanggilku ke kantornya  dan mengancam aku akan dimasukan penjara. Orang tersebut melaporkan hal memalukan tersebut kepada orang rumah. Sesampai di rumah, seperti hal yang kubayangkan. Semua kakak-kakak ku berteriak marah-marah kepadaku. Semuanya menghina-hina aku, memukulku dengan sangat keras, mencaci maki aku. Aku pun sangat sakit hati. Saat itu, aku merasa bahwa aku sangatlah bodoh karena melakukan semua ini demi keinginan yang sangat konyol. Aku pun menahan semua perasaanku, mungkin hampir seharian aku dimarahi, dipukul, dicaci maki. Akhirnya tingkat kesabaranku pun meledak. Aku berteriak kepada kakak-kakak ku itu “Apakah kalian tahu mengapa aku melakukan semua ini!? Sebenarnya aku tidak hanya mencuri saat itu saja, aku sudah banyak kali mencuri ditempat-tempat lain, menjual barang-barang yang tak benar!!” Mereka yang mendengar itu langsung terdiam, bahkan ada yang berteriak balik aku menyatakan anak tak tahu malu. Hampir 1 Jam aku dihina-hina. Disaat mereka terdiam sebentar, mereka pun menanyakan kepadaku “Mengapa engkau melakukan semua ini??”

Dengan hati yang sakit aku pun menjawab “Aku mengumpulkan semua uang ini, demi keinginanku untuk membeli waktu kalian semua meskipun hanya 1 hari saja atau bahkan 1 jam saja, itu sudah sangat cukup berarti buat aku, kalian selalu saja menolakku untuk menonton saat aku bertanding atau berkumpul-kumpul bersama. Jawaban yang kalian lontarkan selalu saja pedas, selalu menjawab waktu adalah uang. Karena itu, aku mencari uang sendiri untuk membeli waktu kalian hanya untuk sebentar saja dan ternyata aku sadar bahwa sangatlah susah untuk mencari uang sendiri, akhirnya yang ada didalam pikiranku adalah menjual barang-barang tak baik dan mencuri. Hanya itulah satu-satunya cara yang aku miliki….”. Saat itu, semua kakak-kakakku terdiam mereka berhenti memukulku dan mancaci maki aku. Mereka pun kembali ke kamar mereka masing-masing. Aku merasa sangat bodoh melakukan hal ini.

 

Besoknya aku sekolah seperti biasa. Teman-temanku tidak  tahu tentang masalah yang sedang aku hadapi saat ini. Tidak ada satu temanku yang mengetahui hal itu. Mereka memperlakukan aku seperti biasanya.  Mereka berbincang-bincang dengan kelompok mereka masing-masing. Yang hanya menjadi tempat pelampiasanku ada olahraga hobi ku, basket.

 

2 minggu lewat sudah kejadian memalukan saat itu. Semua kakak-kakakku melakukan kegiatan mereka seperti biasanya. Uang-uang yang aku curi itupun aku kembalikan pada pemiliknya dengan rasa malu dan penyesalan. Tidak ada sama sekali reaksi apapun dari kakakku atas kejadian itu. Mungkin mereka hanya menganggapku anak bodoh, yang tidak memikirkan hal-hal ke depan. Yah, aku cuek mereka mau menganggap aku seperti apa. Tetapi lama kelamaan, kakakku lebih menanggapiku, meskipun terkadang masih tidak mendengarkan aku. Yah, orang lain pasti berpikir aku melakukan tindakan yang sangat bodoh selama ini. Tapi,, aku merasa bahwa tindakan yang aku lakukan tidak sebodoh yang mereka kira.

Aku tidak sebodoh itu.

 

 

 DonNiE

10 CamBridGe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: