Kata Terakhir Yang Ingin Kuucapkan

Pagi yang cerah ini, layaknya murid-murid sekolah, aku datang dengan membawa tas yang berisi buku-buku pelajaran. Saat masuk ke ruang kelas, teman-teman menyambutku dengan wajah yang ramah dan bersinar terang. Kelas kami ini terkenal sangat kompak, tetapi kadang-kadang susah diatur. Aku, sebagai ketua kelas harus bertanggung jawab atas anggota kelas ini. kemudian aku mengambil tempat duduk di sebelah teman baikku, Fanny. Dia mengajakku bercakap-cakap dan bermain. Aku sangat bahagia memiliki teman seperti Fanny. Dia selalu menghibur saat aku sedih, memperhatikanku, dan menyayangiku apa adanya. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. lagipula kita juga memiliki beberapa kesamaan, yaitu sama-sama suka main basket.

Hari ini ada pelajaran olahgara, pelajaran kesukaanku dan Fanny. Saat aku bermain basket, tiba-tiba rasa sakit muncul dari perutku. Aku tidak tahu dari organ dalam tubuh mana rasa sakit itu berasal. Rasanya itu sakit sekali. Terkadang aku tidak dapat menahannya, tapi untuk kali ini aku bisa. Ku coba untuk tetap bermain basket bersama teman-temanku. Akhirnya, pelajaran olahraga selesai, terasa sangat capek, begitu pula dengan teman-temanku. “eh, minggu depan kita main lagi ya…,” kata salah satu temanku. Hari ini aku merasa sangat senang, meskipun harus menahan rasa sakit yang tidak pernah aku ceritakan pada siapapun termasuk pada keluarga dan teman baikku sendiri.

Rasa sakit ini mungkin tidak akan pernah hilang untuk selamanya, tapi harus ku coba untuk melawan dan tetap kuat.

Aku terus menjalani kehidupan yang seperti ini. Sampai suatu saat, aku pergi ke rumah sakit untuk check-up. Siapa tahu, aku mengidap suatu penyakit. Setelah selesai pemeriksaan, “Apa kamu hanya datang seorang diri?” tanya dokter itu. “Ya, memangnya kenapa dok? Kalau ada apa-apa langsung ngomong ke saya aja.” Kemudian dokter itu berkata, “orangtuamu harus tahu dengan keadaanmu sekarang.” “Tidak perlu, dok. Cukup saya saja yang tahu. Apapun hasilnya tolong jangan beritahu siapun, termasuk orangtua saya. Saya janji bisa menerima kenyataan. Memangnya ada apa sih, dok?” Dengan ragu-ragu dokter tersebut berkata bahwa aku mengidap penyakit kanker yang sudah agak parah dan waktuku hanya tinggal 3 bulan saja. Aku sangat terkejut dan sedih. aku sampai bertanya-tanya mengapa harus aku yang kena, kenapa koq bukan orang lain? apa salahku?

Ternyata apa yang aku rasakan semua itu benar. Selama ini tanpa kusadari aku melakukan kesalahan besar. Aku berjanji selama masih hidup, aku akan membahagiakan orang-orang yang ada di sekitarku. Itu adalah janji terakhirku dan aku harus memenuhinya.

Saat masuk sekolah, aku mencoba untuk berkumpul dengan teman sekelas, bercakap-cakap, bermain, dan tertawa bersama. Saat itu juga teman-temanku merasa aku berubah, begitu pula teman baikku. Tiba-tiba Fanny bertanya “kamu hari ini koq agak berubah ya?” “Hah? Berubah? Mungkin itu cuma perasaanmu saja, aku nggak merasa berubah koq. Uda lah, kita ngomong-ngomong lagi yuk.”

Hari demi hari telah kuhitung. Waktuku sudah tidak banyak lagi, hanya tinggal 2 bulan, waktu yang sangat singkat.

Pada saat di rumah, aku mencoba membahagiakan papa, mama dan adikku. Saat di sekolah, aku membahagiakan teman-temanku. Saat itu aku merasa janji yang telah kuucapkan telah terpenuhi.

Suatu saat, aku bertanya pada Fanny, “Fan, seandainya waktumu hanya tinggal satu setengah bulan lagi apa yang akan kamu lakukan? Kalau kamu diberi kesempatan untuk ngomong, apa yang mau kamu bilang ke orang terdekatmu?” Fanny tiba-tiba bertanya balik, “kamu koq ngomong gitu sih? emm, mungkin aku akan mengungkapkan isi hatiku pada mereka agar mereka tahu apa yang kurasakan. Memangnya kenapa sih?”

Saat itu juga aku mulai bercerita bahwa diriku mengidap penyakit kanker liver dan sisa waktuku hanya tinggal satu setengah bulan lagi. Fanny terkejut. Tanpa pikir panjang, dia langsung memelukku sambil menangis dan berkata, “kamu pasti bohong kan?” “Nggak, Fan. Ini kenyataan. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa. Ini cuma rahasia kita berdua. Janji?” Awalnya dia tidak mau, tetapi setelah aku berkata, “Ini semua demi aku. janji?” Kemudian Fanny berjanji dan sejak saat itu dia selalu memperhatikanku layaknya seorang kakak.

Aku ingin minta maaf pada kalian semua jika ada kesalahan. Maaf kalau aku tidak bisa menjadi teman yang baik bagi kalian dan anak yang baik bagi papa, mama, seorang kakak yang baik bagi adiknya. Aku benar-benar ingin minta maaf. Terimalah maafku ini sehingga aku bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang…

Aku juga ingin berterimakasih pada kalian semua karena mau menerimaku apa adanya. Terimakasih untuk semuanya…

Itulah kata-kata terakhir yang dapat keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam dengan tulus meminta maaf dan berterimakasih sebelum ajal menjemputku.

 

~ Lily – 10.1 ~

1 Response so far »

  1. 1

    Fanny said,

    Judul OK….
    ide cerita biasa tapi kamu berhasil menghidupkan cerita ini…
    hanya saja…. perhatikan kalimat ini:

    Kemudian Fanny berjanji dan sejak saat itu dia selalu memperhatikanku layaknya seorang kakak.

    Aku ingin minta maaf pada kalian semua jika ada kesalahan. Maaf kalau aku tidak bisa menjadi teman yang baik bagi kalian dan anak yang baik bagi papa… dst….

    Dua alinea ini kurang nyambung, Li…. Tambahkan dengan satu kalimat untuk jadi jembatan. Misalnya: Dan, aku sendiri ingin mengucapkan sesuatu kepada kalian semua….


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: