Natal yang Istimewa

Natal. adalah hari yang kutunggu-tunggu ketika aku masih kecil. Hari dimana aku bersama adik perempuanku menerima hadiah-hadiah dari ayah ibuku dan teman-temanku, melihat drama natal di gerejaku, dan hari dimana aku bisa memilih apa yang aku inginkan. Itu adalah arti natal bagiku pada waktu itu. Tapi saat bahagia itu tidak berlangsung lama. Ketika aku berumur 15 tahun ayahku yang selama ini bekerja sebagai Manager di perusahaan bergengsi di Surabaya di pecat karena tertangkap basah sedang menggelapkan uang perusahaan. Ia pun ditangkap polisi dan dijerat 10 tahun penjara. Tanpa ada ayah yang bekerja, kondisi ekonomi kami setiap hari makin menurun. kami yang setiap pagi biasa makan nasi dengan ayam goreng, sekarang harus rela makan nasi dengan lauk tahu dan tempe. Ibuku yang sudah terbiasa hidup mewah akhirnya tidak tahan dengan keadaan ini. Ia lalu meniggalkan kami begitu saja. Rumah kami pun akhirnya disita setelah digadaikan untuk foya-foya ibu kami. Kami pun akhirnya ditampung oleh tetangga kami yang merasa iba kepada kami. Sejak saat itu kami hidup didalam dendam dan kepahitan kepada orang tua kami.

10 tahun sudah. Aku yang sekarang sudah bekerja, berhasil membeli sepetak rumah di pinggiran kota Surabaya. Adikku pun sudah kuliah semester 3 di universitas terkenal di Surabaya. Hari itu bulan Oktober, ketika aku menerima sepucuk surat dari Lembaga Permasyarakatan Surabaya. Isinya memberitahukan bahwa tanggal 25 Desember tahun ini ayahku yang dipenjara akan dibebaskan dan kami diminta untuk menjemput ayahku. Kontan aku kaget dan marah karena ketika aku melihat namanya, serasa membuka luka-luka lama yang selama ini berusaha kututup-tutupi.
Aku membayangkan saat dimana ayah dipenjara dan kami harus diasuh orang yang bukan orang tua kami selama 10 tahun. Aku semakin dendam terhadapnya dan memutuskan untuk tidak menjemputnya ataupun mengingatnya. Kemudian aku memutuskan untuk tidak memberitahukan surat ini kepada adikku dan berbuat seolah-olah surat itu tidak ada.

2 bulan sudah berlalu semenjak surat itu datang. Aku sudah melupakan kehadiran surat itu. Pada tanggal 15 Desember, adikku yang sudah memasuki masa liburan sedang asyik membersihkan rumah. Tanpa sengaja ia menemukan surat yang telah kusembunyikan dengan rapi di bawah mejaku. Karena terdorong rasa ingin tahu, ia pun kemudian membuka surat itu dan membacanya. Spontan, ia merasa kaget, senang, dan kecewa. Ia kaget karena ayahnya akan dibebaskan, Ia senang karena ia akan berkumpul kembali dengan ayahnya, dan ia juga kecewa karena kakaknya tidak memberitahukan akan kepulangan ayahnya kepadanya. Sorenya ia berbicara kepadaku perihal menjemput ayah. Aku pun langsung menolak keinginannya dan menyuruhya untuk tidak lagi membicarakan masalah ini. Sejak saat itu, adikku sering memohon kepadaku agar kami dapat menjemput ayah dan merayakan natal bersama. Aku pun selalu menolak keinginannya.

Hari natal semakin dekat. Karena mendekati hari natal, aku dan adikku memutuskan untuk membeli pernak-pernik natal agar rumah kami yang baru menjadi lebih meriah. Tetapi dengan tambahan pernak-pernik natal ini suasana natal yang ceria tak kunjung muncul di rumah kami.
Hari ini adalah hari natal. Aku menghadiri persekutuan yang diadakan di gerejaku. Pada saat itu ada seorang bersaksi tentang kehidupannya yang lama. Ia bercerita bahwa dulu suaminya berselingkuh dengan teman baiknya sendiri. Ia merasa marah dan kecewa terhadap suaminya. Ia tidak memberikan pengampunan terhadap suaminya. Tetapi ketika ia merasa sudah berhasil melukai suaminya dengan tindakannya ia justru merasa menderita. Ia terus melakukannya berulang-ulang sampai akhirnya ia bertobat dan mengampuni suaminya. Sejak saat itu pula ibu ini merasa terbebas dari beban yang ditanggungnya selama ini.

Setelah mendengar kesaksian ibu tersebut, akupun merasa terpukul. Aku selama ini berusaha untuk tidak mengampuni ayahku, tetapi sampai saat ini pula aku masih menderita karenanya. Ketika pulang aku memutuskan untuk berusaha mengampuni ayahku. Meskipun sulit aku tetap berusaha karena aku yakin, Tuhan Yesus yang sudah membantu ibu itu pasti dapat membantuku. Sesampainya di rumah, aku mengatakan kepada adikku kejadian pagi itu. Mendengar ceritaku, adikku merasa senang sekali atas perubahanku. Kamipun langsung bersiap-siap untuk menjemput ayahku.

Ketika bertemu dengannya, aku masih sedikit merasa marah. Tetapi aku terus berusaha untuk mengampuninya. Sesampainya di rumah kami, ayah kami mengangis karena merasa telah menjadi ayah yang tidak bertanggungjawab. Kami mengatakan kepadanya bahwa kami telah mengampuninya. Ia merasa terharu dan bersyukur kepada Tuhan. Malamnya, kami merayakan natal sederhana di rumah kami yang kecil. Walaupun sederhana, aku merasa sangat senang karena aku merasa bebanku hilang. Akupun akhirnya mengerti arti natal sesungguhnya. Saat dimana kita dapat berbagi kesenangan dengan keluargaku, bukan dengan hadiah-hadiah yang mewah tetapi dengan kasih.

Philbert X.II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: