Penantian

Pertemuan itu terjadi saat kami berdua masih duduk dibangku SMP.  Aku masih duduk  dibangku kelas dua SMP dan dia duduk dibangku kelas satu SMP. Saat itu yang menarik perhatianku adalah senyumnya, tapi dia belum mengarahkan pandangannya ke arahku. Setelah itu aku mulai mencoba untuk mencari tahu lebih jauh tentang dia. Aku mulai mendapatkan nomer handphone-nya dari adiku. Dan aku mulai mengajaknya berkenalan. Saat pertama dia begitu acuh. Seakan benci saat aku mulai memberi dia suatu pesan singkat. Tak kunjung dia membalas, berhari-hari dan tetap seperti itu, tetapi aku tidak menyarah.

Suatu hari aku mendapat ide untuk meminta bantuan oleh teman baiknya. Temannya itu mau membantu, tentunya aku merasa sangat senang. Tetapi juga tidak ada perubahan yang menonjol. Satu bulan telah berlalu dan keadaannya masih tetap sama. Aku sering mencari informasi tentang dia melalui temannya itu, jelas aku mendapat informasi tetapi informasi-informasi yang aku telah dapat itu seakan tak berguna. Sampai pada akhirnya aku berpikir untuk berenti mengajarnya dan berusaha melupakan dia. Suatu ketika aku mendapat informasi bahwa dia sudah memiliki pacar. Perasaanku saat itu benar-benar kacau, sedih kecewa seakan  bercampur aduk, dan kejadian itu membuatku yakin untuk melupakannya.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, sekolah kami mengadakan retreat. Retreat  itu diikuti oleh kelas satu SMP sampai kelas tiga SMP. Tentu aku yang masih belum bisa melupakan dia merasa senang karena bisa mengikuti retreat  itu bersama. Retreat  itu berlansung selama tiga hari dan dua malam. Selama itu aku sering melihatinya dari kejauhan. Dan rasa itu tumbuh lagi. Saat sudah pulang aku mendapat informasi bahwa dia sudah putus dari pacarnya. Saat itu aku langsung dengan percaya diri memberinya suatu peasn singkat. Tetapi hasilnya tetap sama, tidak ada balasan. Kesokan paginya aku terbangun karena handphoneku berbunyi dan ternyata ada pesan dari dia. Aku sangat senang dan langsung membalasnya. Ternyata saat malam harinya dia baru membalas pasanku.

Satu bulan kemudian entah apa yang ada di pikiranku, aku menyatakan perasaanku kepadanya. Dia berkata besok akan menjawab. Ternyata keesokan harinya aku jatuh sakit, sambil menunggu jawaban dari dia. Sampai pada malam hari aku belum mendapatkan jawaban dari dia, sehingga aku putuskan untuk memberinya pesan. Melalui pesan itu aku bertanya tentang jawaban dari dia. Dia menjawab “g tw ya. Aku bingung”. Sehingga aku mengambil keputusan kalau dia menolakku, ternyata itu benar. Aku sangat sedih, dan kuputuskan aku hanya akan berteman dengan dia.

 

Selama berbulan-bulan aku terus berteman dengan dia, dan ternyata aku masih memiliki perasaan kepada dia, tapi kali ini beda. Aku merasakan ada sedikit perhatian yang mulai dia berikan kepadaku. Aku tidak tahu itu perhatian sebatas teman atau lebih, yang paling penting dia mulai mau membuka hatinya untukku. Sampai pada suatu malam teman baiknya memberikan pesan kepadaku. Pesan itu sangat aneh, dia bertanya tentang penampilan cewek yang aku suka, mulai dari cara berpakaian,model rambut,dan sebagainya. Saat sudah aku jawab semua aku bertanya kepada teman baiknya itu, untuk apa bertanya seperti itu tetapi dia tidak menjawabya.

Sampai pada bulan Desember, hubunganku mulai semakin dekat dengan dia. Saat itu kita sedang menghadapi ulangan umun. Aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku kembali kepadanya. Sungguh tak kusangka dia juga memiliki perasaan itu. Akhirnya kita memulai suatu hubungan yang baru. Aku sangat senang, bahagia dan gembira. Malam itu aku merasa sangat semangat untuk belajar, dan nilai ulangan umunku mulai hari itu meninggkat dengan sangat pesat. Mungkin itu efek dari perasaanku yang saat itu sangat bahagia.

Pada tanggal bulan Februari aku mulai mengajaknya untuk pergi ke mall. Saat itu dia takut untuk pergi karena dia belum diperbolehkan untuk pacaran, tetapi lita nekat dan tetap pergi. Untung tidak terjadi apa-apa. Saat bulan Maret kita memutuskan untuk pergi lagi. Saat di sana kita bertemu dengan teman orang tuanya. Lalu teman orang tuanya itu melaporkan semuanya. Dia dimarahi dan kita tidak boleh meneruskan hubungan ini lagi. Tetepi aku berpikir untuk menunggunya. Entah sampai kapan aku bisa bertahan, tetapi aku akan terus bersabar sampai saatnya kita bisa bersama kembali.

 

Oleh : Matthew Sebastian 10.1

1 Response so far »

  1. 1

    Fanny said,

    Ya not bad, Mat….
    Coba kamu berani ngasih kalimat langsung….


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: