Perjuangan Menggapai Mimpi

    Sembilan jam sudah Budi, anak kelas satu dari sebuah SMA di Jakarta, tidak beranjak dari hadapan komputernya. Sibuk dengan game barunya yang sekarang menjadi tren di kalangan teman-teman sekolahnya. Sekalipun masih banyak PR dan bahan ulangan yang harus dia pelajari, ia tidak peduli dan selalu lupa waktu karena game-nya. Di sekolah pun nilai-nilai-nya sangat kacau. Ia selalu mendapatkan nilai yang jauh di bawah standar kelulusan minimal. Tapi lebih parahnya lagi, ia selalu tidak pernah ambil pusing dengan nilai-nilai itu, tetap tertawa dan tetap ceria, seakan nilai-nilai tersebut tidak berharga sama sekali. Di kelaspun saat pelajaran, ia tidak pernah mendengarkan penjelasan guru, yang dikerjakan hanya mengobrol dan bermain, kelakuannya kepada guru juga tidak sopan. Tidak sedikit guru yang dibuat marah olehnya. Teman-temannyapun juga kebanyakan sama dengannya, yang dipikirkan hanyalah bersenang-senang. Kecuali satu teman dekatnya dari SD yang bernama Bambang. Ia juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Budi tapi Bambang tidak adalah anak yang bertanggung jawab, dia tidak terlalu suka bermain-main dan memikirkan masa depannya. Sangat berkebalikan dengan Budi yang sukanya hanya bermain-main, bersenang-senang, seakan menikmati hidup, tidak berguna. Tidak pernah serius, apalagi memikirkan masa depan. Yang dia pikirkan hanya sekarang, bersenang-senang, tanpa beban.

 

    Tapi itu semua berubah setelah secara tiba-tiba dia mendapat kabar kalau ayahnya dipecat karena ketahuan korupsi. Keluarganya harus bisa menekan pengeluaran mereka karena mereka sekarang hanya bisa hidup dari uang tabungan. Setelah kejadian itu, uang sakunya dikurangi sehingga dia tidak dapat lagi menghabiskan uang untuk hal-hal tidak berguna seperti game, nonton bioskop, dll. Dia juga harus melupakan keinginannya untuk masuk ke universitas impiannya di luar negeri. Kecuali ia bisa berjuang untuk mendapatkan beasiswa yang cukup susah untuk orang seperti Budi, mengingat bahwa Budi adalah anak yang sangat malas dan hanya bisa bersenang-senang. Setelah ayahnya dipecat, ia merenung bahwa dengan ayahnya sudah tidak bekerja lagi, bagaimana dia bisa masuk ke universitas impiannya sementara untuk sekolah saja orang tuanya mati-matian mempertahankan. Sejak saat itu ia bertekad untuk belajar sungguh-sungguh demi mendapatkan beasiswa dari universitas yang ia damba-dambakan tersebut.

 

    Sejak saat itu, Budi menunjukkan perubahan yang drastis. Ia menjadi rajin belajar, dan ia mengurangi kebiasaannya bermain game. Dia juga semakin jarang bepergian bersama teman-temannya dan lebih sering belajar dan membaca buku-buku yang berguna. Sekarang, Budi sering menghabiskan waktu bersama Bambang untuk belajar bersama. Dan sejak saat itu nilainya pun terus menunjukkan peningkatan. Nilai-nilainya sudah tidak jauh dari nilai SKM. Tidak hanya itu, makin hari karakternya pun terus bertumbuh menjadi lebih baik. Dia menjadi penurut, rajin, bertanggung  jawab, dan jujur. Ia sudah tidak pernah mencontek lagi waktu ulangan.

 

   Tapi, di tengah-tengah perjuangannya yang berat itu, ayahnya mendapat kecelakaan yang hebat dan harus dirawat di rumah sakit. Ayahnya divonis lumpuh dan tidak bisa banyak bekerja lagi. Kejadian ini membuat Budi tersadar kalau ia harus belajar lebih rajin lagi karena dia sudah tidak dapat lagi bersandar pada ayahnya. Ia belajar siang dan malam tanpa henti karena sebentar lagi ia akan menghadapi ujian akhir semester. Saat ujian akhir semester, Budi mendapatkan nilai-nilai yang sangat memuaskan dalam semua mata pelajaran, bahkan ia , mendapatkan 90 untuk mata pelajaran matematika, mata pelajaran yang dulu sangat ia benci. Ia sangat senang bangga atas hasil kerja kerasnyadan merayakannya bersama Bambang. Ia juga menunjukkannya kepada ayah dan ibunya sehingga mereka menjadi bangga akan anak mereka. Budipun menjadi optimis bahwa ia bisa mendapatkan beasiswa dari universitas impiannya.

 

    Tapi di tengah-tengah kegembiraannya itu, esoknya ia dipanggil untuk menghadap kepala sekolah. Budi dituduh mencontek sehingga ia bisa mendapatkan nilai yang begitu tinggi. Dia akan diskors karena melakukan hal itu. Budi sudah meyakinkan para guru bahwa ia tidak mencontek tapi guru-gurunya tidak percaya karena dia tidak pernah mendapatkan nilai yang begitu fantastis seperti itu. Di saat yang begitu tertekan seperti itu, Bambang datang kepada kepala sekolah dan meyakinkan kepala sekolah kalau Budi tidak bersalah karena dia, sebagai teman dekatnya, tahu bahwa Budi telah berubah dan tidak akan melakukan hal sepert itu. Budi bisa mendapatkan nilai itu karena perjuangannya sendiri. Setelah diyakinkan oleh Bambang, para guru baru mengerti dan tidak jadi menghukum Budi dan menghimbau Budi untuk mempertahankan nilainya.

 

    Budi sangat bersyukur akan hal itu dan menjadi lebih bersemangat untuk belajar dan menggapai mimpinya untuk masuk ke universitas impiannya. Tahun dami tahun berlalu, ia terus berjuang tanpa henti, tak terasa tahun ketiga sekolah menengah atas sudah hampir selesai, ia mendaftar ke dalam program beasiswa dari universitas impiannnya dengan harapan ia dapat diterima tanpa harus mengeluarkan biaya (program beasiswa 100%). Setelah beberapa proses pendaftaran (wawancara, dll), tak terasa beberapa bulan yang mendebarkan telah berlalu, pengumuman yang begitu dinanti dibaca dengan penuh rasa harap.

 

    Masuk..namanya tercantum dalam penerimaan murid baru program beasiswa tersebut. Budi langsung bersorak dalam hati dan mengabari sahabatnya Budi tentang kabar gembira itu. Mereka saling mengucapkan selamat karena ternyata Bambang juga diterima di universitas impiannya. Sejak saat itu mereka berjuang sendiri di tempat yang berbeda tapi dengan janji tidak akan melupakan persahabatan yang tak terlupakan itu.

 

Daniel E. O.

X-1

1 Response so far »

  1. 1

    Fanny said,

    Ide ceritanya bagus.
    Tapi alinea pertama, saya membayangkan saat itu Budi masih asyik main game…. sayang di alinea berikutnya, saya melihat Budi sudah berubah…. Sebaiknya alinea pertama tidak dibuat seperti itu.
    Misalnya:

    Beberapa bulan lalu, Budi selalu asyik terlihat bermain game di komputernya. Namun, hari-hari ini Budi tampak asyik mengerjakan tugas di depan layar komputernya. Perubahan ini memang cukup drastis. Tentu saja ini ada penyebabnya. Mengapa?

    Beberapa bulan lalu, Budi adalah anak yang….. dan seterusnya…

    Jadi, berikan perbandingan yang jelas, Dan…
    Gbu


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: