Mom, dad, i love you….

Aku Dinda, mungkin kalau kau baca surat ini, aku sudah mati sekarang. Hidupku memang biasa saja, bahagia, damai, dan tenang bahkan, tapi sampai kejadian itu menimpaku, aku tak bisa apa apa. Karna busuknya dunia sudah membunuhku perlahan, tapi pasti. Aku hanya bisa katakan padamu, bahwa dunia itu tidaklah indah seperti yang kau bayangkan. Camkan itu baik baik. Surat ini aku hanyutkan bersama air, agar kau tau, betapa ganasnya dunia ini.

7 Juli 2000

***

“Mbok, aku pulang, ada masak apa? Mana Bunda?” kulepas sendal jepitku, dan berjalan ke arah dapur, untuk mengetahui si Mbok ku ini masak apa. “Eh? Ini Din, kesukaanmu, sop merah, tadi di suru Bunda masak ini soalnya. Bunda ndak tau din pergi kemana, cuman kasih tau suruh masak sop ini aja, terus pergi sama orang”. Kuhela nafasku, sepanjang mungkin. Oh ya, belum kenalan ya, namaku Dinda, aku masih sma 3. Keluargaku? Yah, biasa biasa saja, aku seorang anak tunggal dari keluarga kaya, ayahku pengusaha terkenal, punya banyak perusahaan, dan pabrik dimana mana, ibu ku calon seorang model. Kalau kau berpikir orang tuaku awet muda, salah besar, mreka nikah muda, bukan awet muda, gak ada resep buat awet muda kan. Tapi semenjak ibuku akan di rekrut jadi model, ia menjadi beda. OK dia model, dandanannya lebih keren, tapi dy slalu pergi dengan laki laki yang tak kukenal sama sekali. Mungkin saja itu orang kantornya, tapi apa sesering itu dy harus meninggalkan rumah hanya untuk makan siang di kafe? Yah, mungkin aku terlalu curiga, tapi aku hanya gak mau kehilangan keluarga tercintaku ini. Meski dengan ibuku yang sering pergi, ayahku yang bahkan lupa pulang rumah, tapi ini lah tempatku ada, tempat, dimana harus aku jaga, dan tinggali.

10 Febuari 1999

CERAI!!!!!! CELAKA!!!!!!!!!!! Ayah dan ibuku akan cerai!!!!!!!!!! Aku hanya bisa terdiam, terbengong bengong aku dengarkan percek cok an antara ibu dan ayahku. Aku ga mendengar apa apa lagi selain tangisan ibuku, dan amarah ayahku meneriakkan “AKU MINTA CERAI!!!!!! MUAK AKU BERSAMAMU LAGI PEREMPUAN MURAH!!!!! SUDAH, HIDUP SAJA SAMA SELINGKUHANMU ITU!!!!!!!!!”. Astaga…..

20 Mei 1999

Hidupku berantakan sekarang. Aku tinggal dengan ibuku, dan kumpul kebonya, Steve yang amat sangat super duper bego dan kubenci itu. Stiap malam, ibuku di bawa pergi dugem, dan bahkan sekarang ibuku merokok, beberapa bulan lalu dia pernah coba apa itu narkoba, tapi dibuangnya karna tak disukainya. Bayangkan saja, biasanya ibu ibu melarang anaknya dugem, tapi ini? Aku bahkan ditawari rokoknya! Sinting! Aku bisa gila lama lama. Tiap malam kutangisi ibuku, kutangisi ayahku menceraikannya. Aku rela berbuat apapun agar ayah dan ibuku bisa bersatu lagi, bisa seperti dulu walau ayah jarang pulang, walau ibu hampir setiap saat mengomeliku. Tapi nyatanya aku butuh itu sekarang, aku butuh omelan omelan ibuku, aku butuh nasehat ayahku, aku butuh semua. Meski dulu aku mengacuhkannya, namun sekarang aku berjanji, kalau ibu dan ayah bersatu, aku akan menurutinya, karna sekarang ini, aku rindu akannya. Aku tak dengar lagi suara ayahku lewat telpon mengatakan akan segera pulang namun tidak pulang pulang, aku juga ingin dengar suara ibuku dari balik dapur berteriak bahwa aku harus belajar, aku tak bisa dengar itu, dan tak akan pernah bisa.

25 Juni 1999

Malam ini, malam dimana ibuku di paksa pergi ke diskotik itu lagi. Aku tak tahan, benar benar tak tahan. Segera kuambil kunci mobil, dan kustarter mesin. Setelah sekitar dua menit aku memanaskan mobil, aku tancap gas ke tempat itu hanya dengan pikiran untuk membawa ibuku pulang rumah. Sesampainya di tempat itu, aku bahkan tak mengenali ibuku lagi. Aku hanya bisa menangis, melihat ibuku menari karna mabuk di tengah altar. Sayang, waktu aku hendak mendatangi ibuku, ada seseorang yang menusuk tanganku. Entah dengan apa, namun yang pasti, ketika aku kaget dan teriak, ia memberiku sepucuk surat merah..

Selamat datang di dunia kami, orang baru. Kami senang kau muncul, kau menambah kelegaan kami. Terima kasih, dan sekali lagi kuucapkan selamat datang di dunia kami, orang yang terinveksi HIV…

Astaga!!!!!!!!!! Ini orang udah gila!!!!!!!!! Apa apaan ini???? Aku HIV??? Gak, gak mungkin, ini bohong, ini tipuan, ini pasti mimpi. Please God aku gak mau ceritaku seperti ini. Tapi tak kuhiraukan lagi surat itu, kutaroh dikantungku, dan bergegas ku datangi ibuku, menggaetnya pulang, meninggalkan dunia malam ini, yang kelam, dan suram, bersama kumpul kebonya yang masih mabuk itu. Biar saja ia pulang dengan taksi atau kendaraan lain apalah, yang pasti, aku harus membawa pulang ibuku tak dengannya, dasar lelaki buaya darat.

5 Juli 1999

Hari ini, aku periksa darah, aneh, blakangan ini aku sering sakit. Panas lah, flu lah, apa lah ini lah itu lah, sampai capek aku dibuatnya. Smoga aja gak demam berdarah, akhir akhir ini banyak kejadian demam berdarah. Musimnya kali ya. Aku periksa darah lengkap, hasilnya aku gak papa. Namun aku disarankan periksa HIV. Hah? Gak salah denger aku? Ya udah, nurut in dokter, aku periksa esok nya. Hasilnya? Positive……

10 Maret 2000

Satu tahun semenjak aku tahu aku HIV, ibuku tak kunjung bertobat. Masih saja tetap dugem, rokok. Meski kumpul kebonya sudah tidak ada, pindah kerjaan katanya, ke luar kota, namun ibuku masih tetap seperti ini. Ini karena ulah setan itu maka ibuku seperti ini. Tak ada guna memang aku menangisi ibuku tiap malam, mendoakannya tiap malam, karna dia tak pernah berubah. Hanya jadwal rokoknya saja yang dikurangi, jadi satu hari 1 pack rokok. Sebelumnya dia 1.5 pack rokok perhari. Meski sekarang aku menangisi dirinya itu tak lah penting. Bicara soal keluarga, ayahku sudah tiada sekarang, begitu ia tahu aku HIV, serangan jantungnya kambuh, ia sekarat, dan pergi dari dunia ini.

3 Mei 2000

Akhirnya tiba waktuku. Aku sakit. Di vonis dokter aku AIDS positive. Untunglah dengan begini aku bisa menyadarkan ibuku dari kegiatan gilanya. Mulai stop dugem, perlahan berhenti merokok, dan mulai merawatku layaknya seorang ibu lagi. Memang ini yang kuharapkan, meski hanya punya ibu, yang penting aku senang. Vonis dokterku, sekitar 10 bulan lagi aku akan pergi dari dunia ini. Meninggalkan ibuku sendiri, 10 bulan lagi.

29 Agustus 2000

Ini adalah detik detik terakhir di hidupku. Melihat semua berkumpul di sini adalah angurah bagiku. Meski di rumah sakit, berbaring lemah, dan mencoba ‘tuk bertahan hidup. Tapi apa daya, aku semakin sekarat. “Aku tak takut mati Bund, tak ada yang kutakutkan lagi sekarang ini. Aku sudah punya semuanya, kebahagiaan itu maksudku. Bund, bisakah ku minta tolong? Hanyutkan surat ini di pantai terdekat. Aku ingin mengirimkan sebuah perkataan agar yang mengambilnya tersadar sesuatu.” Sewaktu kukatakan itu, aku menyerahkan surat dalam botol yang sebelumnya sudah aku tulis, dan ku bawa kemana mana. “Bund, aku mengasihimu.. Jaga diri baik baik, karna aku akan menyusul Ayah”. Kusempatkan untuk tersenyum, memandang ibuku, dan saudaraku yang ada disini “No one human being could know my pain. Mom, I wish I could say “Mom, dad, I love you!” so I love you, and goobye”. Kuhembuskan nafas terakhirku, kukatakan “Aku sayang kalian smua, selamat tinggal”

7 Maret 2001

By : Gabz x-1

3 Tanggapan so far »

  1. 1

    Fanny said,

    Pfffff… mbaca ini nyaris gak napas… asyik sih… klimaksnya bagus… antiklimaksnya juga keren…🙂

  2. 2

    smaiphsby said,

    wah, makasi bu. kwkwkw😀
    .-=GaBz wuz here=-.

  3. 3

    SARY said,

    critanya baguzzz, ,, jd keasyikan dech bacany. . .

    ampe2 capek bacanya, . . karna critany asyik jadi seru aj gt, ..

    heheheheh. . . . .


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: